“SECARA DE FACTO PRABOWO SUDAH PRESIDEN”

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

MESKIPUN Pemilihan Presiden masih akan berlangsung pada Tanggal 17 April 2019 mendatang, sepertinya aroma kemenangan bagi Capres dan Cawapres Prabowo-Sandi sudah tidak bisa terbendung lagi. Karena pemilu bulan depan tampaknya hanya akan menjadi ajang seremonial rakyat saja, untuk mengukuhkan Prabowo-Sandi secara de jure sebagai Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Periode 2019-2024 melalui bilik suara.

Pasca ditangkap tangannya ketua umum partai persatuan pembangunan romahurmuzy oleh kpk, yang diduga melakukan praktek jual-beli jabatan di kementrian agama, perahu koalisi pasangan KoRuf (Jokowi-Ma’ruf) sudah seperti kapal tanpa nahkoda yang terlihat oleng dan akan segera tenggelam kedasar laut yang dalam.

Koalisi rapuh yang dibangun oleh pasangan KoRuf ( Jokowi-Ma’ruf), saat ini sedang saling menggigit, dan cakar-cakaran serta berseteru diantara sesama parpol pendukung petahana. Saling membully sesama partai pendukung dengan cara saling membuka aib dan kebobrokan masing-masing parpol pendukung petahana mulai dipertontonkan kehadapan publik, antara kader psi vs pdip, kader pkb vs kader ppp dan ternyar golkar vs nasdem, ini semua terjadi sebagai akibat dari lemahnya kepemimpinan incumbent.

Banyak tokoh yang telah mendeklarasikan diri untuk mengusung tuan incumbent ternyata di OTT oleh KPK, yang teranyar adalah si ganteng eks ketum ppp rohmahurmuzy yang di ott kpk terkait kasus jual-beli jabatan di kemenag ri, serta OTT politikus golkar pendukung jokowi Bowo Sidik Pangarso. Selain itu banyak di antara para tokoh pendukung petahana juga terkesan tersandera oleh kasus hukum, semisal TGB dalam kasus divestasi newmount dan Ustad Yusuf Mansyur terkait kasus paytrend.

Banyaknya tokoh pendukung petahana yang tersandra kasus tapi tetap mendukung petahana, karena berharap kalau petahana menang maka kasus-kasus yang menyandera mereka, bisa diselesaikan dengan cara-cara damai dan kekeluargaan melalui jalur kekuasaan. Tapi sayang, akhirnya banyak tokoh yang sudah terlanjur deklarasi mendukung incumbent mengalami kekecewaan, karena publik punya pilihan berbeda dengan tokoh-tokoh tersebut.

Publik yang telah terlanjur kecewa oleh sikap petahana lebih memilih pasangan Prabowo-Sandi karena dianggap bisa mewakili suara masyarakat yang menginginkan adanya perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Publik sudah sangat kecewa dengan janji-janji yang tidak pernah di realisasikan oleh incumbent, apa yang dijanjikan dalam kampanye 2014 silam berbeda dengan yang dikerjakan oleh tuan presiden saat ini, dan kehidupan rakyat selama hampir lima tahun kepemimpinan petahana malah semakin sulit.

Kini menjelang pilpres dan pileg serentak 17 April 2019, semakin banyak rakyat yang menginginkan terjadinya suksesi atas kepemimpinan nasional dengan cepat, karena hampir lima tahun negeri ini berjalan serasa tanpa nahkoda. Duet pasangan Prabowo-Sandiaga Uno kini telah menjadi pemenang hati publik karena kita bisa melihat dan merasakan atmosfer yang berbeda manakala mereka berdua berada ditengah rakyat, begitu masifnya rakyat yang ingin mendekat dan begitu merindukan kepemimpinan negeri ini dibawah komando prabowo-sandi.

Rakyat sudah sangat lelah dengan akrobat kepemimpinan petugas partai yang terasa sangat lemah karena banyak diatur oleh mantan *”Petinggi Opsus, dan Tangan-tangan konglomerat tak terlihat”*. Rakyat ingin pemimpin yang cerdas dan berwibawa bukan sekedar kelihatan punya wibawa pencitraan tapi sesungguhnya sudah kehilangan wibawa dihadapan publik.

Jadi 17 April nanti, sekali lagi saya sebut hanyalah acara seremonial untuk mengukuhkan Prabowo-sandi secara de jure. Hanya saja jangan lengah dan terlampau besar kepala, karena para mantan petinggi Opsus di sekitar Jokowi adalah orang yang lihai dalam memainkan siasat dan menyebar agitasi serta propaganda agar incumbent tetap berkuasa. Meski Jaringan ini kelihatan lihai tapi mereka bukan kelompok yang memiliki komunikasi dengan jaringan internasional dengan baik, karena jaringan opsus yang mengendalikan tuan petahana punya hobby menyebarkan ketakutan kepada publik, sama halnya ketika pilkada dki jakarta yang lalu.

Kini apapun agitasi dan propaganda yang dibuat oleh kelompok pro rezim, mulai dari survei bayaran, media bayaran sampai buzzer bayaran yang bertujuan untuk menggiring opini dan membuat mainset publik tetap menerima petahana sudah sangat sulit diterima akal sehat publik, karena publik yang cerdas tetap akan memilih pemimpin yang punya akal bukan memilih pemimpin yang akal-akalan.

Sebagai pesan penutup, bagi para mantan opsus dibelakang jokowi, sebaiknya cepat sadar dan bangun dari mimpi karena fitnah yang kalian bangun tentang adanya kelompok pro khilafah dibelakang prabowo adalah mainan jadul dan usang, karena rakyat diera revolusi sudah tidak percaya dengan fitnah dan halusinasi yang disebarkan untuk menakut-nakuti rakyat. Publik kini lebih percaya dengan prabowo-sandi yang akan menjadi nahkoda bagi rakyat bukan sekedar petugas partai.

Waallahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassallamuallaikum Wr, Wb.
Grand Melia lt.14
Jakarta 29 Maret 2019
🙏PYN🙏

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *