Diduga Proyek Embung di Babel Telan Dana Ratusan Milyar Bermasalah, Ketum LSM PMPRI Siap Laporkan ke Penegak Hukum

KORANFORUM.COM, JAKARTA — Adanya dugaan bermasalah pada pengerjaan Proyek Pembangunan Embung, di Kawasan Batu Mentas, Dusun Kepayang, Desa Kacang Butor, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung (Babel), mendapat sorotan tajam dari Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Swadaya Masyarakat PEMUDA MANDIRI PEDULI RAKYAT INDONESIA (LSM PMPRI), Rohimat.

Ketum DPP LSM PMPRI yang merupakan Aktifis Senior dan biasa akrab dipanggil dengan nama Joker ini, mengaku sangat kecewa dan menyatakan rasa geramnya atas informasi yang didapatnya dari media, terkait dugaan adanya masalah pada pengerjaan proyek Multiyears bernilai ratusan Milyar dan bersumber dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) ini.

“Saya merasa kecewa dan geram, ketika saya membaca berita di suatu media online harian lokal, yang mengungkapkan bahwa adanya dugaan kuat kalau pengerjaan Dinding Proyek Embung di Kawasan Gunung Mentas di Babel ini, ambruk beberapa kali? Tentunya ini harus dicurigai oleh pihak terkait, kalau pengerjaan proyek ini diduga kuat bermasalah. Khususnya instansi penegak hukum, harusnya segera menindaklanjuti informasi dari pemberitaan media ini. Karena ini menyangkut uang rakyat yang berjumlah ratusan milyar,” ucap Joker, sambil menampakkan rasa kesal diraut wajahnya.

Joker mengungkapkan lagi, mengacu pada informasi yang diperolehnya dari pemberitaan di media lokal, menjelaskan adanya dugaan kalau Dinding Proyek Embung Air Baku Gunung Mentas, di Dusun Kepayang, Desa Kacang Butor, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung pernah terlihat ambruk, pada Hari Jum’at (8/2/2019) lalu.

Selain itu, lanjut Joker, ada mencuat masalah lainnnya, selain dugaan ambruk pada dinding proyek itu, yaitu adanya dugaan kasus pekerja proyek yang masih belum mendapatkan pembayaran upah sebesar 5 persen, dari pihak kontraktor.

Anehnya, meski sudah selesai dikerjakan, ternyata Proyek Pembangunan Embung Air Baku Gunung Mentas, di Dusun Kepayang, Desa Kacang Butor, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Babel ini, masih terdapat berbagai masalah.

Mengacu pada pemberitaan di media, rupanya, belum lama ini, proyek itu terlibat kisruh masalah upah pekerja, lalu juga muncul persoalan lainnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, ada dugaan pada Bulan Januari 2019 lalu, dinding embung pada pembangunan proyek yang diduga dikerjakan oleh PT Patimah dengan kerjasama PT Bangka Cakra Karya (BCK) berupa Kerjasama Operasi (KSO) ini, diduga bernilai sekitar Rp 123.202.129.000, dimana diduga kuat pengerjaan dinding embung sudah ambruk sebanyak tiga kali.

Padahal, mengacu pada info yang diperolehnya di media, dinding embung itu memiliki ketebalan sekitar 70 Centimeter (Cm) di bagian bawah, sedangkan ketebalan 50 Cm ada di bagian atas, dimana rupanya terpasang miring dan diduga tidak mampu menahan tekanan tanah, sehingga menyebabkan dinding itu ambruk sebanyak 3 kali.

“Lalu yang saya herankan, kenapa pihak perusahaan masih menyisakan hutang kepada pekerja? Bahkan diduga hingga mencapai lebih dari Rp100 juta? Kabarnya kontraktor belum membayar upah pekerja sebesar 5 persen lagi? Diduga dengan dalih menunggu kelanjutan pencairan dari instansi yang terkait proyek ini?” tanya Joker, sambil mengernyitkan keningnya tanda penuh keheranan.

Bahkan, diungkapkan Joker lagi, mengacu pada informasi yang diperolehnya dari media lokal setempat, bahwa wartawan media tersebut, pernah melakukan pantauan langsung ke lapangan, pada hari Jum’at (8/2/2019) lalu, dimana saat itu, diduga terlihat sekitar 20 meter dinding embung yang ambruk, ternyata belum ada tanda-tanda ada perbaikan.

Selain itu, terlihat juga masih ada banyak pekerjaan yang diduga belum diselesaikan dengan baik oleh pihak kontraktor.

“Masih mengacu pada berita yang saya baca di media lokal ini, infonya saat itu, ada bata penahan tanah pinggir jalan di sekeliling proyek embung ini, diduga kuat belum terpasang dengan baik. Karena diduga kuat, saat itu masih terlihat batu bata berserakan di pinggiran embung dan ada tanaman Pohon Pinus yang telah mati,” beber Joker.

Dilanjutkan Joker, pada pemberitaan yang dibaca di media lokal itu, ternyata diduga terdapat seorang pekerja yang mengaku kecewa dan merasa tertipu oleh pihak perusahaan, dimana itu diketahui oleh pekerja bersangkutan saat mengetahui isi surat perjanjian pelaksanaan pekerjaan proyek Multiyears, dari dana yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2016, 2017 dan 2018 tersebut.

Bahkan, saat itu, pekerja tersebut sampai berkata dirinya merasa tertipu dan mengungkapkan penyesalannya, namun pekerja itu sempat minta namanya tidak ditulis oleh wartawan media lokal harian ini, saat ditemui untuk wawancara, pada Hari Sabtu (09/02/2019) lalu.

Lalu, berdasarkan pada pengakuan sang pekerja itu, yaitu mengacu pada isi perjanjian maka upah pekerja sebesar 5 persen baru akan dibayar oleh perusahan pada tahun 2020 mendatang, atau setelah masa pemeliharaan proyek berakhir.

Diduga rasa kekecewaan pekerja makin tambah memuncak, setelah mereka mengetahui kalau kepala manager proyek, Toni Rusmana, saat itu terkesan tidak bisa dihubungi via ponselnya oleh pekerja bersangkutan.

Lalu, sampai ada oknum pekerja sampai berkata, “Mana ada perusahaan yang bayar upah setahun setelah pekerjaan selesai?”. Kemudian, pekerja yang bersangkutan juga mengaku kalau dia tidak mengerti ketika disodori surat perjanjian kerja dan lalu ditandatanganinya.

Informasinya lagi, pekerja tersebut juga mengungkapkan, kalau mereka seperti bekerja pada masa “penjajahan” dengan upah murah dan ada hutang.

“Ada info yang menarik pada pemberitaan media lokal ini, yaitu dituliskan kalau pekerja itu sempat mengungkapkan, bahwa untuk pasangan talud dinding embung saja, mereka hanya dibayar sekitar Rp 90.000 permeternya. Namun harga Itu juga, setelah dipotong pajak dan retensi, maka upah yang diterimanya hanya sekitar Rp 80.000 per meter. Bahkan diduga, potongan itu belum termasuk uang rokok manager proyek, yang selalu minta jatah setiap kali pembayaran upah. Sedangkan untuk pekerjaan pemasangan conblok, diduga kuat manager proyek minta jatah Rp 5000 permeter. Info ini, diungkapkan oleh pekerja yang berasal dari Jawa,” ungkap Joker lagi, menyampaikan tulisan yang dibacanya dari media lokal di Babel.

Dilanjutkan Joker, oknum pekerja bersangkutan juga mengungkapkan, bahwa bisa diduga kalau salahsatu penyebab ambruknya dinding pada proyek embung itu, adalah adanya tanah timbunan yang menjadi bantal dinding dan telah dibangun jalan, namun ternyata tidak dipadatkan. Akibatnya, patut diduga tanah menjadi bergerak sampai membentur dinding embung.

Lalu, masih mengacu pada pemberitaan media lokal tersebut, kalau secara terpisah, awak medianya sempat melakukan konfirmasi kepada Pengawas Lapangan dari Dinas PUPR Provinsi Bangka Belitung (Babel), Sastra Sasmita, dimana yang bersangkutan malah mengaku kalau dirinya malah dibuat pusing oleh kontraktor dari Jakarta.

Menurut dia, pihaknya sudah berkirim surat kepada PT. Fatimah Indah Perkasa dan PT. Bangka Cakra Karya KSO, terkait masalah proyek ini, dimana surat dari pihaknya berisi instruksi kepada kontraktor untuk memperbaiki dinding embung yang ambruk.

Sementara itu, awak media lokal tersebut, juga sempat melakukan konfirmasi pada Manager Proyek ini, yaitu Toni Ruswana, dimana konfirmasi dilakukan pada Hari Sabtu (09/02/2019) lalu, yangmaba dia mengatakan, bahwa pihaknya akan segera memperbaiki dan menangani dinding embung yang ambruk tersebut. Namun juga dia sempat membantah, terkait adanya info tentang sisa upah pekerja yang belum dibayar, seperti yang dikeluhkan oleh oknum pekerja. Sebab katanya, yang belum dibayar itu adalah retensi 5 persen dari sisa pekerjaan.

Adapun retensi yang dimaksud, ditandatangani di atas meterai dan akan dibayarkan setelah FHO, atau setelah berakhirnya masa pemeliharaan.

Perlu diketahui, saat itu kondisi Proyek Embung Air Baku Gunung Mentas, yang bernilai ratusan milyar dan bersumber dari APBN ini, belum ada tanda-tanda akan segera berfungsi. Padahal pengerjaan proyek ini, diduga kuat sudah empat kali dilakukan Addendum, dimana keamanan proyek ini dilengkapi dengan 16 kamera CCTV, yang diduga telah terpasang di seputaran kawasan pembangunan proyek embung tersebut.

Menyikapi kondisi diatas, Joker selaku Ketum DPP LSM PMPRI, bakal melakukan investigasi secara menyeluruh atas pelaksanaan proyek ratusan milyar yang diduga bermasalah ini.

Jika ditemukan adanya dugaan pidana korupsi atas proyek yang bersumber dari APBN ini, maka pihaknya tanpa takut sedikitpun, bakal melaporkan kepada institusi hukum yang berwenang, yaitu bisa ke KPK, Kejaksaan Agung maupun Mabes Polri.

“Kami (DPP LSM PMPRI), siap segera bergerak ke lapangan untuk menindaklanjuti informasi ini. Bahkan, jika aparat yang berwenang tak segera tindaklanjuti informasi atas dugaan proyek Multiyears ratusan milyar  yang diduga kuat bermasalah ini, maka saya siap intruksikan kepada para aktifis LSM PMPRI, agar melakukan unjuk rasa damai ke KPK, atau Kejagung maupun Mabes Polri,” tandas Joker. (Tim/RP)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *