Wawancara Dengan Tokoh Pejuang HAM Papua: “Membandingkan Jokowi Dengan Soeharto”

PERAWAKANNYA Kecil. Wajahnya tirus. Tetapi dia memiliki sorot mata yang tajam untuk menjelaskan karakternya yang kuat.

Sosok itu, adalah Mama Yosepa Alomang. Tokoh perempuan pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Papua yang sangat vokal menyuarakan ketidakadilan yang dialami rakyatnya. Sosoknya terutama mencuat setelah ia menerima penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun 1999 atas kegigihannya memperjuangkan hak-hak asasi orang Papua untuk mendapat pengakuan nasional.

Kami bertemu di sebuah kedai kopi di kawasan Jakarta Pusat, pertengahan Mei lalu. Ia didampingi oleh intelektual muda dan aktivis HAM Papua, Markus Haluk, yang dalam beberapa hal bertindak juga sebagai penerjemah dan penafsir ungkapan-ungkapan Mama Yosepa.

Saya mengawali percakapan dengan bertanya, apakah ia sudah memperoleh tanggapan dari pemerintahan Presiden Joko Widodo, setelah sebulan sebelumnya ia menulis surat terbuka kepada beliau.

Isi surat terbuka tersebut, antara lain, mendesak Jokowi untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua segera, sebelum masa pemerintahannya berakhir (2019). Perempuan kelahiran tahun 1940-an ini juga menyerukan agar Panglima TNI dan Kapolri menarik seluruh pasukan TNI dan Polri yang saat ini berada di wilayah Tembagapura Timika, Papua.

Wajah Mama Yosepa langsung berubah diberi pertanyaan itu. Ia tak dapat menyembunyikan kemarahannya. Ia marah karena, dalam hemat dia, Presiden Jokowi tidak menunjukkan keseriusan dalam menangani pelanggaran HAM di Papua. Terlalu lama sudah masalah itu dibiarkan. Mama Yosepa lelah. Padahal, Jokowi sudah delapan kali mengunjungi Papua.

“Saya sudah tua. Sudah lelah menunggu. Mohon sampaikan kepada Pak Jokowi agar memberi perhatian kepada masalah pelanggaran HAM di Papua,” kata dia dengan nada bicara meninggi.

Sebagai perempuan, Mama Yosepa meminta Jokowi memandang Papua sebagai sosok ibu. Alam Papua terus saja dihabisi, dieksploitasi, dipaksa untuk berproduksi.

Anak-anak dari rahim sang ibu telah banyak yang menjadi korban. Sungai, gunung, hutan, ia umpamakan sebagai tubuh Ibu Papua. Mereka tercerai-berai dan tercabik-cabik. Korban tewas menjadi tulang-belulang yang berserakan. Dan itu semua, kata Mama Yosepa, memiliki roh. Tulang-belulang itu harus dikembalikan. Yang rusak harus diperbaiki.

“Kami ini semua dibunuh habis. Sekarang saya datang sebagai perempuan. Pak Jokowi juga manusia. Saya manusia. Kita sama-sama manusia diciptakan Allah. Kami telah berdarah-darah. Anak-anak kami dibunuh di atas bumi Papua. Kami korban dari satu penderitaan ke penderitaan lainnya. Indonesia ‘jajah’ kami seperti ini.

Ini yang saya ingin sampaikan kepada Pak Jokowi. Sampaikan bahwa Mama Yosepa Alomang menangis. Ini saya minta dengan baik. Presiden harus kembalikan (kepada) yang punya tanah dan air Papua. Itu harus kembalikan dengan baik. Roh-roh (korban yang telah meninggal) harus dikembalikan,” kata Mama Yosepa, yang pada tahun 2001 menerima penghargaan Anugerah Lingkungan Goldman atas perjuangannya mengadvokasi komunitasnya terhadap pertambangan Freeport.

“Allah ciptakan Tanah Papua untuk orang Papua. Sekarang saya datang sebagai perempuan. Allah ciptakan tanah itu kepada kami, tidak beda dengan ibu bagi kami. Sekian tahun sang Ibu ‘melahirkan,’ berdarah-darah, anak-anaknya dibunuh,” berkali-kali ia mengulang hal ini.

Bila Mama Yosepa berkata dan bereaksi emosional, kata Markus Haluk yang mendampinginya, itu harus dapat dipahami. Sebab, sebagai seorang perempuan yang telah lama berjuang dan menderita, ada trauma dalam dirinya. Penindasan oleh kekuasaan atas dirinya turut memengaruhi cara dia bereaksi terhadap siapa pun.

Soal pelanggaran HAM yang ia sebut, dalam surat terbuka yang ia buat pada 13 April 2018, digambarkan secara lebih detil. Dalam surat itu, Mama Yosepa secara khusus menyoroti kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap warga sipil suku Amungme, Damal, Dani, dan Moni yang bermukim di Banti I, Banti II, Kimbeli, dan Opitawak di Tembagapura Timika.

Menurut mama Yosepa, pelanggaran HAM di sana berlangsung sejak Oktober 2017 hingga April 2018. Ia juga mengatakan bahwa konflik antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB/OPM) dengan TNI dan Polri berdampak pada terjadinya Pelanggaran HAM, penembakan, pembunuhan, pembakaran rumah, dan pengungsian terhadap warga sipil.

Lebih jauh, ia mengatakan rakyat Suku Amungme sebagai Pemilik Sulung Emas Gunung Nemangkawi, serta suku-suku kerabat lainnya telah lama menjadi korban semenjak masuknya PT Freeport Indonesia di atas tanah mereka.

“Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sudah delapan kali mengujungi West Papua, termasuk di Tanah Amungsa Timika. Namun, hingga memasuki tahun ke-4 pemerintahannya, Presiden Joko Widodo tidak mempunyai niat untuk mencari jalan penyelesaian akar masalah Papua secara bermartabat sebagai penyebab utama tuntutan dan perlawanan TPNPB/OPM terhadap TNI/Polri di Tembagapura dan wilayah West Papua lainnya,” kata Mama Yosepa dalam suratnya.

Membandingan Jokowi dengan Soeharto

Pada bagian lain percakapan kami, Mama Yosepa mengenang apa yang dialaminya di zaman Orde Baru.

Menurut catatan Wikipedia, pada tahun 1991, Yosepa mengadakan aksi unjuk rasa selama tiga hari di bandar udara di Timika, dengan memasang api di landasan udara. Itu dilakukan sebagai tanda protes atas penolakan Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mendengarkan keprihatinan rakyat setempat dan perlakuan buruk yang berkelanjutan terhadap rakyat Papua.

Pada tahun 1994, Mama Yosepa ditangkap karena dicurigai menolong tokoh Organisasi Papua Merdeka, Kelly Kwalik. Bersama dengan seorang perempuan Papua lainnya, Mama Yuliana, ia dimasukkan ke sebuah tempat penampungan kotoran manusia.

Ia dikeram di tempat itu selama seminggu dengan kotoran manusia setinggi lututnya. Itu adalah masa-masa di mana cengkraman militerisme pemerintahan Soeharto masih sangat kuat. Suara yang melawan selalu dibungkam.

Namun, satu hal yang tidak ia duga adalah langkah Soeharto memerintahkan Wakil Presiden saat itu,Try Soetrisno, untuk menemui dan membebaskannya. Keramahan dan upaya seperti itu, menurut dia, tidak ada di era Jokowi.

“Saya masuk tahanan tahun 1994. Itu Soeharto punya wakil yang datang menyelamatkan saya. Sekarang, apa yang dilakukan Jokowi? Apakah dia datang kepada para korban pelanggaran HAM Papua? Soeharto mungkin dia manusia, selamatkan saya melalui dia punya wakil. Bagaimana dengan Bapa Jokowi? Dia datang (ke Papua) pantau-pantau apa?” tanya dia, saat itu.

Sosok Mama Yosepha Alomang, adalah Figur Mama yang paling sentral, dalam mainstream utama Civil Soviety, di Papua.

Beliau nyaris dikenal oleh tokoh-tokoh dan pemimin dunia. Saya sudah katakan “Jokowi Selesai di Papua”.

Penulis: Natalius Pigai (Pejuang HAM)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *