Pradipa Yoedhanegara: “Kasus RJ Dan MFB Harus Mencermikan Rasa Keadilan Publik”

JAKARTA — Viralnya video seorang remaja pelajar berinisial RJ, diduga berusia 16 Tahun, yang terlihat mempraktekkan adegan disertai ucapan ingin menembak Presiden Jokowi dan secara terbuka menghina, serta mencaci maki Presiden Jokowi dengan sebutan sebagai “Kacung”, sangatlah melukai perasaan rakyat dan membuat prihatin semua pihak.

Dikarenakan, perbuatan itu justru dianggap oleh oknum remaja bersangkutan, sebagai lucu-lucuan saja dan tidak bermaksud untuk melakukan hal lebih jauh lagi.

Padahal jika mengacu pada fakta, dugaan kasus penghinaan kepada Presiden Jokowi ini, bukanlah yang pertama kali terjadi.

“Dalam catatan saya, setidaknya ada beberapa kasus yang saya sendiri tidak begitu hafal jumlahnya. Akan tetapi, kasus penghinaan terhadap Presiden Jokowi tersebut, semua yang diduga sebagai tersangkanya ditangkap, kemudian dilakukan upaya penahanan oleh pihak kepolisian, sesuai prosedur hukum acara,” ungkap Aktifis Sosial dan Pers, Pradipa Yoedhanegara, kepada Media Tabloid Koran Forum (www.koranforum.com) via Whattshap, Minggu (27/5/2018) lalu.

Faktanya, lanjut Pradipa, ada sebuah akun Facebook bernama Ringgo Abdillah, diduga pelakunya berinisial MFB, yang merupakan seorang remaja berumur 17 Tahun, diduga telah ditangkap polisi, pada sekitar medio Agustus 2017 lalu, setelah oknum remaja bersangkutan mengunggah tulisan, yang bernada hinaan kepada Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Saat dilakukan pemeriksaan oleh polisi, pelaku berinisial MFB, yang diduga masih berusia 17 Tahun kala itu, diketahui mengelola setidaknya 30 akun Facebook, yang menyebarkan kebencian dan hinaan untuk Presiden Joko Widodo. Kepada penyidik Polri, remaja putus sekolah itu mengaku sudah mengelola akun itu sejak tahun 2012 lalu? Artinya, sejak yang bersangkutan masih berumur 12 tahun.

Kemudian, kasus tersebut bisa dinyatakan lengkap alias P21 oleh Kejaksaan Negeri Medan, lalu remaja putus sekolah yang masih berumur 17 Tahun tersebut, kemudian didakwa dengan pasal berlapis, yakni diduga melanggar Pasal 45 Ayat (3) UU RI Nomor 19 Tahun 2016, Tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 2008, Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 27 Ayat (3) UU RI No. 11 Tahun 2008, Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kemudian, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, diduga telah menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 1 Tahun 6 Bulan atau 18 Bulan penjara, kepada terdakwa MFB alias Ringgo Abdillah (17), remaja yang diduga menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kapolri Tito Karnavian, melalui postingannya di situs jejaring sosial facebook dan twitter.

Selain itu, terdakwa MFB juga dijatuhi pidana denda senilai Rp 10 juta, subsider 1 Bulan kurungan.

Dalam amar putusannya tersebut, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan menilai, bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan didalam persidangan, MFB telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, karena melakukan tindak pidana, dengan sengaja dan tanpa hak, mendistribusikan, membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang memiliki muatan penghinaan, serta pencemaran nama baik terhadap Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Belajar dari kasus yang menerpa MFB ini, kata Pradipa, seharusnya pihak kepolisian bisa melakukan hal yang sama, kepada oknum remaja yang videonya viral ingin melakukan pembunuhan terhadap Presiden Jokowi. Bukannya malah ingin mencari pelaku penyebarluas video tersebut. Atau paling tidak, penyidik polri bisa merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012, tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), karena kasus yang menimpa RJ dan MFB ini, diduga sama-sama kasus anak yang berkonflik dengan hukum, sehingga penyidik polri bisa menerapkan proses hukum yang sama, antara RJ dengan MFB, dimana MFB yang sudah lebih dahulu diadili, sesuai undang-undang tersebut diatas.

Dikatakan Pradipa, penegakan hukum yang dilakukan oleh Polri diera revolusi digital, selayaknya juga mempertimbangkan rasa keadilan publik dan transparan, atau setidaknya ada perlakuan yang adil dalam proses penegakan hukum, agar tercipta rasa keadilan dalam paradigma masyarakat di era milenial seperti saat ini, karena jika ada perbedaan yang begitu mencolok, akan terkesan telah terjadi semacam “Abuse of Power”, yang patut diduga dilakukan oleh pihak Polri terhadap masyarakat, yang tidak memiliki akses terhadap institusi penegakan hukum.

“Ada sebuah adigium yang begitu dikenal dalam istilah hukum, yaitu “Justitia Ruat Caelum”, yang artinya, “hukum harus ditegakkan walau langit akan runtuh”. Begitu indah prosa kata tersebut, sehingga banyak di jadikan semacam jargon oleh para penegak hukum dan para pencari keadilan, yang haus akan pencarian sebuah kebenaran,” ucap Pradipa lagi.

Kata atau syair nan syahdu tersebut, juga banyak dikutip oleh tokoh-tokoh media massa, sampai menjadi pembicaraan luas di media sosial, yang begitu Cetar Membahana, jika meminjam istilah dari Artis Syahrini. Inti dari untaian kalimat kalimat tersebut, adalah hukum itu harus disanjung setinggi langit, agar hukum bisa tegak di bumi pertiwi.

Lalu, menurut Pradipa, dengan memperhatikan dua kasus remaja yang ada di wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, publik dapat melihat adanya disparitas, yang begitu menganga lebar dalam “Law Enforcement” di negeri ini. Sebab, disitu terlihat ada semacam separasi ataupun sekat dalam dua kasus ujaran kebencian, yang mengiris rasa keadilan publik, di negeri tercinta, yang bisa dijerat oleh hukum pidana dan sebuah kasus yang dianggap sebagai sebuah candaan, atau terkait dengan lucu-lucuan dalam penegakan hukum.

Sebagai pesan penutup, tambah Pradipa, masih belum terlambat bagi penyidik Polri, apabila ada keinginan untuk memperbaiki citra dalam penegakan hukum, agar kiranya dapat segera menetapkan tersangka kepada remaja di ibukota, yang berinisial RJ, agar dapat merubah asumsi publik untuk tidak berfikir macam-macam.

“Karena pada akhirnya, dalam dua kasus tersebut, penyidik Polri telah berlaku Equal, yaitu memberikan kesetaraan didalam hukum bagi publik diera digital sosial,” pungkasnya. (jon)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *