“Perang Dan Teroris, Proyek Abadi Negara Adidaya”

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

JUDUL Dalam artikel ini, mungkin agak sedikit tendensius dan akan sedikit menjustifikasi, karena akan bercerita tentang berkecamuknya “Perang dan Teror” di beberapa belahan dunia, yang sejak awal patut diduga memang didesign sebagai sebuah proyek abadi dan bisnis besar, bagi beberapa negara yang menjadi produsen alat perang dan produsen sistem alat keamanan, yang berkembang di negara-negara adidaya.

Perang di masa lampau, sejatinya terjadi sebagai akibat dari perebutan pengaruh atau pun wilayah, dalam suatu kerajaan atau berebut tahta kerajaan, sampai disebabkan karena keinginan untuk mempertahankan kesucian seorang wanita. Seperti yang tertulis dalam kisah Ramayana, yang begitu melegenda di negeri ini, maupun Negara India sana.

Perang dan Teror yang terjadi sebagai akibat dari perebutan wilayah, tahta kekuasaan dan sumber daya ini, terjadi karena buruknya sistem tata kelola pemerintahan di masa lalu. Akan tetapi, di era revolusi digital seperti saat ini, perang dan teror yang dihadapi oleh umat manusia, terjadi sebagai akibat adanya “Konspirasi Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi”.

Lalu timbul pertanyaan, kenapa sampai demikian? Itu lebih disebabkan karena masifnya metodelogi penyesatan kurikulum iptek, yang dilakukan oleh negara-negara Adidaya.

Terjadinya perang saudara di Amerika, misalnya, telah menjadi salahsatu perang pertama yang menunjukkan perang industri persenjataan dalam sejarah manusia. Masifnya pembuatan rel kereta, kapal-kapal uap, produksi senjata secara massal, dan berbagai macam alat militer lainnya, dilakukan di seantero amerika.

Praktik perang total yang dikembangkan oleh Sherman di Georgia dan Perang Parit di sekitar Petersburg, menjadi salah satu taktik yang digunakan dalam Perang Dunia I di Eropa, diawal berkembangnya iptek, yang kemudian berevolusi saat terjadinya perang dunia kedua, dimana negara adidaya mengembangkan senjata dan bom atom  untuk kepentingan perang.

Perang dan Teror akan terus terjadi, selama manusia hidup dan berkembang di dunia. Perang dan teror hanya bisa ditunda sejenak waktu saja, tapi tidak bisa untuk dihentikan. Karena cepat atau lambat, perang dan teror yang terjadi di dunia ini, tidak bisa dihindarkan lagi, karena hal tersebut telah menjadi sebuah bisnis dan industri. Karenanya, sebagai sebuah bisnis dan industri, maka perang dan teror akan terus berjalan beriringan, meski manusia menjadi muak terhadap perang dan aksi teror tersebut.

Kemudian lagi, ada timbul pertanyaan pula, kenapa perang dan teror tidak bisa dihentikan? Jawabnya, hal itu mungkin lebih disebabkan karena masih banyaknya pabrik senjata yang memiliki ratusan ribu pekerja, bahkan jutaan orang yang menggantungkan hidupnya dari bisnis tersebut, serta masih masifnya produksi peralatan tempur dan masih begitu pesatnya penjualan sistem alat-alat pengamanan, terutama dibanyak negara maju.

Selain itu, perang dan teror itu juga menyangkut anggaran negara-negara maju yang banyak dinikmati oleh negara ketiga, yang minim pendapatan negaranya, karena dana untuk pembangunan negaranya, dihasilkan dari terjadinya konflik dan teror.

Sebenarnya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pecahnya konflik, yang kemudian menyebabkan perang, serta terjadinya terorisme di dunia pada era milenial seperti saat ini.

Ada pun penyebabnya, yaitu, terjadi karena faktor psikologis, faktor kultural dan ideologis, serta faktor ekonomi yang ingin menguasai sumber daya alam suatu bangsa, dimana terjadi juga sebagai akibat dari faktor politis dalam suatu negara, karena salah urus dalam pemerintahan.

Dalam “Perang dan Teror” yang terjadi terhadap umat manusia, baik di masa yang lalu sampai di era milenial seperti saat ini, maka dimungkinkan dari sana lahirlah sebuah “Evolusi dalam peradaban dan iptek” yang berkembang begitu pesat.

Selain hal tersebut diatas, teknologi persenjataan juga sudah mengalami kemajuan dan sangat berkembang dengan cepat. Kemudian cakupan atau jangkauan geografis dalam perang dan teror tersebut, juga sudah menjadi begitu sangat luasnya.

Disini, berkembang yang namanya industri kapal selam, kemudian armada laut, serta berkembang lagi industri teknologi Airforce, yang kini telah menjadi bagian terpenting dari memenangkan sebuah perang dan teror, begitu juga berkembangnya instrumen perang dan anti teror yang lainnya, seperti adanya pasukan infantry, cavalery, artilery dan warships, dengan berbagai kekuatan yang menjadi sangat modern dan begitu canggih, bahkan dengan majunya industri bom nuklir, disaat terjadinya perang dan teror diberbagai penjuru negeri.

Perang dan teror, serta konflik bersenjata di seluruh dunia, sebenarnya adalah “It’s all about the money” (semua karena uang), karena dibelakang semuanya adalah “Industry Senjata dan Alat Keamanan”.

Sebab, sejatinya perang dan teror itu di desain oleh negara-negara maju, agar tercipta sebuah ketakutan yang luar biasa pada masyarakat, sehingga dari ketakutan tersebut dapat menciptakan pundi-pundi uang, bagi negara-negara adidaya tersebut.

Mengutip statemen Hillary Clinton, di Gedung Senat Amerika, beberapa tahun lalu, sempat mengatakan,”Musuh-musuh yang sekarang ini kita (USA) perangi, yaitu Taliban, Al Qaida dan lain sebagainya, dibiayai dan diciptakan oleh Amerika sendiri, dimana ketika di masa Presiden Ronal Reagan berkuasa, ada persetujuan dari konggres di masa itu”.

Selain pernyataan yang keluar dari Mantan Menlu USA, Hillary Rodham Clinton, ada juga Jenderal Martin Dempsey, yang pernah memberi pernyataan, “Jika Amerika Serikat dan Sekutunya ikut mendanai ISIS”. Lalu kini, ISIS menjadi alat utama propaganda Amerika dan banyak negara di dunia, dalam menciptakan perang dan teror di banyak negara.

Jadi sesungguhnya, perang dan teror yang mengatasnamakan agama adalah sebuah “Bullshit” (omong kosong), atau kebohongan yang sudah mendunia, karena dikemas secara apik melalui pengamat bayaran dan media mainstreams, yang banyak didanai oleh negara adidaya produsen alat perang dan industri keamanan. Untuk kemudian, bisa dijadikan sebagai sebuah kerajaan bisnis raksasa abadi, yang menghasilkan uang dengan jumlah yang begitu luar biasa dan tak terhingga.

Begitu banyak pengamat perang, intelijen dan terorisme di negeri ini, bahkan banyak juga pengamat di dunia, yang sepertinya terjebak atau sengaja menjebakkan diri kedalam sebuah “frame manifesto kepentingan barat”, yang secara sengaja dan terus menerus berupaya mendeskreditkan Islam, sebagai agama yang identik dengan kekerasan dan teror. Dimana pada akhirnya, bisa menjadi alat pembenaran negara adidaya tersebut, untuk terus menciptakan keresahan dan teror, serta perang di berbagai penjuru dunia, agar industri persenjataan dan alat-alat keamanan di negara adidaya tersebut, berjalan dengan optimal.

Karenanya, Hoax soal ISIS dan Islam Radikal itu, sebaiknya dihentikan saja, karena pencipta teror dan perang sesungguhnya adalah negara-negara adidaya tersebut. Yaitu, patut diduga kuat, jika “CIA yang meng’created, mendanai dan melakukan pelatihan untuk ISIS dan banyak kelompok radikal dibanyak negara didunia”.

Sebaiknya, jika terjadi teror didalam negeri ini, maka sudah selayaknya kita sebagai sebuah bangsa untuk berani mengutuk dan menyalahkan negara-negara adidaya tersebut, sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas adanya aksi-aksi teror di negeri ini.

Karena banyak sekali fakta dan data yang bisa diambil dari keterlibatan negara adidaya tersebut, seperti pertemuan Senator Amerika Serikat, Jhon McCain, pada sekitar Bulan September 2014 lalu, yang bertemu dengan ISIS, lalu menyatakan,”Kalau kami (USA) kenal mereka (ISIS), dengan akrab!!!”. Statemen ini, sangat jelas, sehingga patut diduga kuat bahwa merekalah pencipta sekaligus pendana aksi-aksi teror di berbagai penjuru dunia, hingga di negeri kita tercinta ini.

Untuk itu, sudah semestinya kita sebagai bangsa yang besar, hendaknya “menghentikan Hoax soal perang dan teroris di dunia”, dengan langkah dan sikap politik yang cerdas, dari pemimpin politik di negeri ini. Misalnya, dengan tidak ikutserta atau latah, dengan membeli peralatan perang dan alat-alat keamanan dari negara adidaya selaku produsen alat tersebut. Kemudian, juga “berani mengatakan tidak terhadap sumbangan dana hibah” dari negara-negara itu, yang dipergunakan untuk pelatihan anti teror.

Sebagai seorang muslim, saya tidak pernah percaya dan tidak akan mempercayai adanya perang dan teror yang dilakukan atas nama agama, apalagi dilakukan menjelang atau disaat Bulan Ramadhan, yang penuh rahmat dari Allah SWT, seperti saat ini.

Akan tetapi, saya setuju aparat keamanan untuk menindak dengan tegas pelaku teror tersebut, karena sudah mencedrai nilai dalam hak azasi manusia, maupun nilai dalam keberagaman, karena para pelaku teror selalu melakukan kejahatannya pada simbol-simbol keagamaan tertentu.

Secara pribadi, saya juga ingin mengungkapkan, agar publik dan media maistream juga berani bersikap tegas kepada para pelaku teror, dimana dengan menyatakan,”Mereka bukan sedang berjihad, melainkan sedang menjadi sales atau marketing negara adidaya produsen alat bersenjata dan keamanan!”.

Karena apa yang lakukan mereka itu, sangat merugikan bagi bangsa ini, serta meminta para pelaku teror tersebut, agar berhenti menjadi sales atau marketing bagi negara produsen alat keamanan dan senjata tersebut.

Sebagai pesan penutup, bagi para pelaku pembuat teror dan pengamat terorisme, serta para pejabat yang sering mendeskreditkan Islam sebagai biang terorisme, apa yang kalian lakukan tidak lebih sebagai prilaku sales atau marketing, yang sedang membuat promosi, agar memajukan industri senjata negara adi kuasa.

Jadi, sudahi saja polemik tentang teror dan perang ini, karena semua ini adalah rekayasa dan kebijakan global untuk memperkaya negara asing.

Wallaahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassallamualaikum Wr, Wb,

Jakarta, 27 Mei 2018
🙏PYN🙏

#Kategori: Opini

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *