“Rakyat Tidak Takut Teror Bom, Tapi Takut Isyu Jokowi Dua Periode”

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

BEBERAPA Hari belakangan ini, seluruh rakyat di negeri ini dibuat pilu dengan adanya aksi-aksi teror yang terjadi di sejumlah wilayah dinegeri ini. Hanya saja dengan begitu berani dan tanpa rasa takut dibenak rakyat, mereka secara beramai-ramai dengan kompaknya langsung memasang tagar dibanyak media sosial dengan bunyi *#KamiTidakTakutTeror*.

Apa yang dilakukan oleh sebagian rakyat dinegeri ini yang dengan penuh nyali sesungguhnya wajib kita apresiasi oleh semua pihak, karena pada akhirnya mereka sama sekali tidak memiliki ketakutan dan tidak gentar dengan adanya aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok pembuat teror yang bergentayangan melakukan aksi-aksi secara brutal di pelbagai tempat di negeri ini.

Sebagai mantan jurnalis saya lantas memiliki naluri untuk bertanya kepada orang-orang yang memasang hastag *”Kami Tidak Takut Teroris”*, kenapa mereka sepertinya begitu lantang dan terkesan ingin menantang para teroris tersebut untuk berkelahi didunia maya, karena ada sebagian masyarakat yang justru ketakutan dan khawatir terhadap adanya aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok teroris.

Ternyata kebanyakan dari mereka menjawab kepada saya bahwa sudah terbiasa hidup dibawah cengkraman dan teror penguasa di zaman now, yang seringkali menggunakan pasal-pasal karet ( dalam hal ini undang-undang ITE) untuk merepresi kritik yang dilontarkan kepada penguasa atas gaya kepemimpinan yang tidak sesuai dengan undang-undang dasar maupun kaidah serta norma dan etika yang berlaku didalam masyarakat.

Janji-janji manis kampanye seorang pemimpin yang tidak terealisasi lebih menakutkan ketimbang teror bom yang ada seperti saat ini, “celetuk seorang ibu kepada saya”. Selain itu teror naiknya bbm dan harga-harga yang sewaktu-waktu bisa naik tanpa pemberitahuan kepada rakyat saat ini, juga begitu sangat menakutkan dan lebih keji lagi dari teror bom yang terjadi saat ini, *”jawab seorang ibu, muda juga kepada saya”*.

Diluar dugaan ternyata ibu-ibu zaman now begitu sangat kritis dan begitu berani mengungkapkan fakta dan kebenaran. Selain itu mereka (para ibu) meminta saya, untuk terus menuliskan curhatan hati mereka di pelbagai media sosial agar bisa dibaca oleh rakyat banyak. Selain itu beberapa dari mereka meminta saya untuk tidak pernah berhenti dalam menulis dan memberikan kritik lebih tajam dan keras kepada penguasa saat ini. Karena sebagian dari mereka ternyata banyak menyukai tulisan yang saya buat, sebab dianggap membawa pencerahan dan mencerdaskan dalam kehidupan berdemokrasi seperti saat ini.

Dalam diskusi yang saya lakukan dengan cara tatap muka tersebut, ada seorang sumber mantan aktivis yang berbicara kepada saya, kalau saat ini sistem bermasyarakat dan bernegara di indonesia sedang mengalami abnormal, sehingga bisa, *”menimbulkan situasi menjadi gila”*. Yang dalam filosofi jawa, disebut juga sebagai *”zaman edan atau wolak-walike zaman”*.

Selain itu ada banyak masyarakat yang berpendapat, kalau saat ini banyak sekali politikus, aktivis, akademisi dan para pejabat tinggi negara lainnya seperti petinggi TNI/Polri yang dianggap tidak bisa menebak langkah politik presiden jokowi, karena sebenarnya presiden jokowi sendiri tidak bisa membaca langkah politiknya sendiri, yang hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan dan gaya berpolitik presiden jokowi sendiri:

● _I Don’t Read What I Sign_ (April 2015)

● _Please Come and Invest in Indonesia, If You Have Any Problem, Call Me,_ (April 2015)

● _I Want To Test My Minister_ (Nov 2015)

● Menerima tamu (PP Muhammadiah) secara resmi di Istana Negara dengan berpakaian Militer Tempur _(Juni 2015)_ Dan Sebaliknya, menerima delegasi GIDI (Gereja Injili di Indonesia) yang terlibat pembakaran Masdjid Di Tolikara fengan ramah _(Juli 2015)_.

● Jokowi: Mulai september, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meroket (Agustus 2015)

● Pernyataan Yang Tidak Konsisten. “Agama Harus Dijauhkan Dari Politik (24 Maret 2017)” kemudian “Agama dan Negara Harus Berjalan Beriringan​ (14 April 2018)”

● “Saya sudah perintahkan kepada BUMN, kalau sudah membangun jalan tol, sudah jadi, segera dijual,” ujar Jokowi di dalam acara Musrenbang Nasional 2017 di Hotel Bidakara, Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017).

● Kecewa pada Raja Salman, Jokowi: _Padahal Saya Sudah Mayungi waktu Hujan, Saya Sudah Nyetiri Sendiri_ (April 2017)

● Pidato di Hongkong 1 May 2017 dengan mengatakain bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia No.3 terhebat didunia setelah China & India.

● _”Saya sampaikan, saya sebagai Presiden tidak pernah mengeluarkan izin untuk reklamasi,”_ kata Presiden Jokowi di sela peninjauan ke tambak udang di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu, 1 November 2017.

● Jokowi Pakai Sandal Jepit Warna Ungu, Celana Digulung di Atas Mata Kaki Di Pantai Kuta, Bali 23 Desember 2017

● Pakai Kaus dan Sepatu Kets, Jokowi Resmikan Kereta Bandara 2 Januari 2018

● Saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin, 30 April 2018 Jokowi mengatakan “Yang paling mahal racun dari kalajengking, harganya US$ 10,5 juta per liter atau Rp 145 miliar per liter. Jadi Pak Bupati, Pak Walikota, kalau mau kaya cari racun kalajengking,”

Dari banyak statemen tuan presiden seperti diatas, tampaknya saat ini banyak rakyat di negeri ini berpraduga bahwa NKRI saat ini diambang ketidakpastian arah dan tujuan dalam kerangka berbangsa dan bernegara, jadi menurut sebagian masyarakat teror bom justru menguatkan bangsa dan menyatukan mereka agar lebih kuat dan sabar dalam menghadapi seluruh cobaan yang datang dari pelbagai macam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai pesan penutup, secara pribadi saya sangat bangga dengan keberanian rakyat indonesia yang tidak mudah di intimidasi oleh pelbagai macam bahaya dan teror para teroris yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan hilangnya nyawa mereka. Karena pada akhirnya menurut sebagian rakyat indonesia ditahun 2019 nanti mereka akan terbebas dari rasa ketakutan. Karena ketakutan yang sesungguhnya akan dapat dihentikan yaitu dengan memilih pemimpin yang menjadikan rakyat sebagai sahabat, bukan sebagai sebuah ancaman dalam berdemokrasi.

Wallaahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassallamualaikum Wr, Wb,

Jakarta, 17 Mei 2018
🙏PYN🙏

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *