“Sebagai Bangsa Kita Jahat Membully Presiden, Sebaiknya Meminta Pak Jokowi Legowo Mundur Demi Menyelamatkan NKRI”

Oleh: Pradipa Yoedhanegara (Jurnalis/Aktifis Sosial)

JIKA Dihitung sudah lebih dari tiga setengah tahun berjalannya rezim pemerintahan Jokowi pasca Pemilu 2014, lalu.

Kini, kita hidup sebagai sebuah bangsa terkotak-kotak, meski dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI).

Bangsa ini hampir terpecah belah selama hampir empat tahun, salah satunya karena faktor lemahnya kepemimpinan nasional yang menurut paradigma sebagian rakyat Indonesia, Presiden Jokowi tidak bisa menjadi alat pemersatu bangsa, meski duduk sebagai Kepala Negara.

Sebagai sebuah bangsa, kita sangat sadis manakala memilih pemimpin hanya untuk dihina dan ditertawakan dihadapan publik, padahal kita sudah tahu presiden yang kita pilih sama sekali tidak memiliki kapasitas maupun kwalitas sebagai figur seorang pemimpin nasional yang mumpuni. Tapi disatu sisi, sebagai sebuah bangsa tampaknya kita malah senang dengan olok-olok tersebut, dengan mengharapkan tuan presiden memimpin untuk dua periode, agar bisa dijadikan sebagai bahan caci maki dan candaan banyak orang.

Presiden dalam bahasa Latin berasal dari kata prae-sebelum dan sedere-menduduki, adalah suatu nama jabatan yang digunakan untuk pimpinan suatu organisasi, perusahaan, perguruan tinggi, atau negara.

Pada awalnya, istilah ini sering dipergunakan untuk seseorang yang memimpin suatu acara atau rapat (ketua); tetapi kemudian secara umum berkembang menjadi istilah untuk seseorang yang memiliki kekuasaan eksekutif. Lebih spesifiknya, istilah “Presiden” ini,  terutama dipergunakan untuk sebutan seorang kepala negara atau kepala pemerintahan suatu negara republik, baik yang dipilih secara langsung, ataupun tak langsung.

Sejarah berdirinya lembaga kepresiden di Negara Kesatuan Republik Indonesia, adalah sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi di Indonesia, selain juga sebagai kepala negara, presiden juga menjadi pimpinan tertinggi angkatan bersenjata dan kepolisian negara.

Lembaga Kepresidenan Indonesia,  dibentuk diawal kemerdekaan Tahun 1945, oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Kemudian pada Tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), memutuskan untuk memilih Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia. Sebelum dilakukan amendemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945, presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Kemudian setelah amandemen ke empat UUD 1945 itu, dimulailah pemilihan presiden secara langsung melalui mekanisme Pemilu tahun 2004, presiden dipilih secara langsung oleh rakyat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Diera kepemimpinan Soekarno dan Soeharto, dinilai lembaga kepresidenan begitu sangat sakral dan dihormati publik, karena kedua tokoh tersebut sangat terlihat kharismatik dan begitu matang dihadapan publik, serta terlihat sangat serius ketika memimpin seluruh rakyat indonesia.

Selain hal tersebut, hampir semua capaian atau target pemerintah dimasa itu dapat di realisasikan dan berjalan dengan baik hampir di semua sektor.

Bangsa ini telah banyak merasakan kepemimpinan yang silih berganti dari para mantan presiden dinegeri ini. Para pemimpin yang silih berganti membawa keteladanan kepemimpinan yang begitu hebat, dan di masa yang lalu para pemimpin bisa menjadi teladan bagi rakyatnya. Mantan Presiden Soekarno membawa gagasan tentang nasionalisme, kemudiandan Soeharto membawa gagasan tentang stabilitas politik dalam kerangka pembangunan nasional.

Dimasa kepemimpinan mantan presiden Soekarno dan Soeharto, bukanlah era digital society seperti saat ini. Namun mereka berhasil membawa perubahan besar bagi bangsa ini, menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang disegani oleh negara tetangga, ditingkat regional dan internasional nama indonesia begitu harum karena mampu berperan dan memainkan peran strategis dalam setiap momen internasional.

Presiden Jokowi, Sebagai sosok seorang pemimpin zaman now ditingkat nasional, seharusnya memiliki kemampuan yang sama dengan para pendahulunya, yang memiliki karakter dalam memimpin NKRI diera revolusi digital. Sebagai presiden jokowidodo seharusnya mampu mencontoh para pendahulunya yang begitu dihormati oleh rakyatnya maupun oleh para pemimpin bangsa lain dengan mempertontonkan kepemimpinan nasional yang elegan dan dapat menjadi panutan rakyatnya.

Diawal kepemimpinannya, presiden jokowi membawa ide tentang jargon “Revolusi Mental” dan “Nawa-Cita”, yang kini jadi cerita angin lalu. Janji-janji tuan presiden yang dulu diharapkan membawa perubahan bagi NKRI kini, ternyata hanya menjadi cerita dongeng untuk menemani tidur sebagian pendukungnya, yang hingga kini masih mengharapkan perubahan di tengah ketidakpastian dan keputus’asaan.

Selama lebih dari 3,5 tahun, kita terus menerus menyaksikan dramatikal politik pencitraan yang begitu memalukan dan memuakkan publik, sehingga membuat rakyat kini kehilangan harapan dan kepercayaan terhadap pemerintahan tuan Presiden Jokowi saat ini.

Pendukung fanatik tuan Presiden Jokowi, mencoba meredam kritik dan mengalihkan perhatian publik dengan berbagai macam cara yang bersifat sementara dan ketika sudah tidak mampu lagi menghadapi kritik publik yang begitu masiv, akhirnya para pendukung fanatik tersebut, hanya bisa mengatakan, “Jika ingin mengganti Jokowi sebagai presiden, tunggu sampai 2019, sesuai dengan konstitusi yang berlaku dalam demokrasi di negeri ini”.

Tahun pertama Jokowi menjabat sebagai presiden, ketika publik mengkritik, para pendukung tuan presiden hanya bisa mengatakan, bahwa Jokowi baru satu tahun menjadi presiden, sehingga belum bisa berbuat banyak buat bangsa. Di tahun kedua, Presiden Jokowi kembali mendapat kritik dan bahkan dihujat publik, namun para pendukung Jokowi mengatakan, bahwa sang presiden baru dua tahun menjadi presiden dan terjesan banyak menyalahkan kebijakan mantan Presiden SBY.

Hingga saat ini, tuan presiden sudah menjabat hampir tiga setengah tahun lebih, publik tetap tidak puas dengan kinerja tuan presiden, maka kritik dan hujatan semakin tajam terhadap tuan presiden. Namun kembali lagi, para pendukung dan pemuja tuan presiden mengatakan, bahwa mengganti presiden harus dengan cara-cara demokratis, sesuai dengan konstitusi dengan tujuan agar tuan presiden Jokowi dibiarkan menjabat sebagai Presiden sampai 2019.

Akan tetapi, para pendukung tuan presiden sepertinya lupa, bahwa sampai 2019 nanti, negara dan bangsa indonesia akan hidup dalam ketidakpastian akan masa depannya sebagai sebuah bangsa, dengan indikasi hutang mencapai 4000 Trilyun lebih, kenaikan harga kebutuhan pokok, TDL, BBM, Tol, dan lain sebagainya, serta melemahnya daya beli masyarakat.

Jika harus menunggu hingga tahun 2019, bangsa ini akan banyak membuang waktu, tenaga dan biaya tanpa adanya kepastian, bahwa setelah tahun 2019 keadaan rakyat akan lebih baik dari saat ini. Artinya, rakyat harus menanggung semua akibat dari kekacauan yang dibuat oleh rezim petugas partai dan kroninya sampai 2019, dengan tanpa harapan dan kepastian di tahun selanjutnya.

Pasca reformasi bergulir, bangsa ini tampaknya menjadi bangsa yang sadis dan tidak berprikemanusiaan karena memilih pemimpin hanya untuk dihina dan ditertawakan. Membiarkan tuan presiden jokowi sampai 2019, membuat kelompok yang pro dan kontra terhadap rezim saat ini sama-sama menderita karena membiarkan pemimpin kita ditertawakan publik (disiksa).

Sebagai pesan penutup, buat apa kita memilih pemimpin tetapi hanya dijadikan sebagai bahan tertawaan dan ejekan publik. Namun jika kita meminta tuan presiden agar legowo mundur dari kursi kepresidenan, dengan begitu kita telah menyelamatkan tuan presiden jokowi dari siksaan banyak orang serta menyelamatkan bangsa Indonesia dari ketidakpastian arah dan tujuan bernegara.

Wallaahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassallamualaikum Wr, Wb,

Jakarta, 16 Mei 2016
Jam 12.30 BBWI
🙏PYN🙏

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *