“Kami Berbeda Keyakinan, Tapi Kami Hidup Rukun dan Saling Berbagi”

PERSAUDARAAN Tak mengenal suku, agama, ras dan Agama, karena persaudaraan itu lintas kehidupan antar manusia yang hidup di dunia ini.

Bahkan, persaudaraan itu merupakan dasar atas kerukunan, kebersamaan dan kedamaian, karena manusia hidup dalam lingkungan yang banyak perbedaan, namun merupakan Rahmat dari Yang Kuasa.

Mengacu atas kenyataan itu, A�aku sempat terkenang lagi di waktu dulu masih tinggal di wilayah Jakarta, pada beberapa, waktu silam.

Saat itu, ketika sudah masuk Bulan Puasa Ramadhan, tetanggaku yang kebanyakan beragama Islam dan sedang menjalankanA�ibadah puasa, setiap kali mereka masak makanan untuk hidangan berbuka puasa, maka seringkali aku kena bagian untuk mencoba rasa atas menu makanan untuk hidangan berbuka puasa itu.

Sebab, sudah pas kondisinya, aku yang non muslim dan mereka adalah muslim yang sedang berpuasa.

Ketika itu, saat mulai waktu jelang sore, sekitar Pukul 16.00 WIB, jikalau ada terdengar panggilan nama akrabku, “wannnn”, maka seketika itu, aku pun langsung berlari kecil menuju ke rumah tetangga ku. Kadang aku sudah tahu, tentunya tujuan dari panggilan namaku itu, adalah disuruh mencicipi masakan sayuran tetanggaku tersebut. Namun, A�aku merasakan senang atas fenomena kehidupan bertetangga itu.

“Oh indahnya arti kebersamaan ini,” ujarku dalam hati, saat itu.

Kenapa hatiku merasa senang? Karena meskipun berbeda keyakinan agama diantara kami, tapi kami bisa hidup rukun dan saling berbagi kebahagiaan. Apalagi memang kala itu, bahkan sampai sekarang pun,A�hobi memasakku tak pernah berkurang.

Bahkan, seringkali ku bikin menu makanan pada setiap bulan puasa, seperi masakan jenis kolak dan es buah, lalu kami saling tukar maknan yang kami masak.

Lalu, sering pula kami tertawa bareng, A�ketika masa lebaran Idul Fitri tinggal satu hari lagi. Karena kala itu, makanan berupa ketupat sudah dimasak, lalu sudah kami makan. Namun ternyata, ada pengumuman yang memberitahukan, bahwa lebaran belum tiba pada hari itu, karena baru terjadi pada keesokan harinya. Kondisi saat itu, bikin kami tertawa bareng karena ketidak tahuan kami. AlangkahA�indahnya kebersamaan, saat itu. Walaupun diantara kami berbeda keyakinan, tapi kami bisa hidup rukun, bersaudara dan penuh keceriaan.

Dan saat ini pun, saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi teman temanku yang muslim, A�yang besok Hari Kamis, Tanggal 17 Mei 2018, mulai menjalankan ibadah puasanya. Saya sampaikan, “Mohon maaf lahir dan batin ya kawan-kawanku”. (*)

Sumber: Fb Veni Yulianti.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *