“AKSI TEROR MAKO BRIMOB DAN GEREJA DI JAWA TIMUR, BUKTI KEGAGALAN NEGARA DAN JEBLOKNYA KINERJA UKPPIP”

Oleh: Pradipa Yoedhanegara (Jurnalis/Aktifis Sosial)

PADA Minggu ini viral hampir semua media mainstream dan media sosial yang dipenuhi pemberitaan dan pembicaraan tentang teror, yang terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua Depok dan pemboman secara bersamaan di tiga gereja sekaligus, di daerah Surabaya, Jawa Timur (Jatim), pada Minggu pagi, Tanggal 13 Mei 2018.

Dalam kaitan ini, berbagai opini, statemen dan analisa mengalir begitu cepat di ruang publik, yang terkadang pendapat tersebut tanpa didasari literatur yang jelas, sehingga terkadang cenderung melakukan penyesatan dan pengkafiran intelektual.

Teror adalah merupakan suatu kondisi ketakutanA�yang nyata yang tumbuh didalam masyarakat, perasaan yang begitu luar biasa akan bahaya yang mungkin terjadi. Keadaan ini sering ditandai dengan kebingungan atas tindakan yang harus dilakukan selanjutnya. Kemudian Terorisme sendiri adalah merupakan serangkaian tindakan berupa serangan-serangan yang terkoordinasi atau dikondisikan untuk menciptakan teror atau rasa takut di masyarakat secara luas dan masiv.

TerorismeA�sebenarnya pertama kali muncul di Cina sekitar 400 tahun yang lalu, sebagai suatu bentuk untuk melakukanA�strategi dalam perdagangan.A�Dimana jalan untuk melakukan kekerasan digunakan sebagai upaya dalam mengintimidasi lawan bisnisnya. Akan tetapi terorisme untuk pertama kali digunakan sebagaiA�alat politikA�adalah pada saat dimulainya Revolusi Prancis di mana negara menggunakan kekerasan untuk melenyapkan pihak-pihak yang menjadi oposisi jalannya roda pemerintah pada saat itu.

Akan tetapi diera milenial ini, teror atau terorisme muncul dalam berbagai macam bentuk baru dengan tujuan dan modus operandi yang berbeda-beda dengan terorisme yang terdapat di masa lalu. Bagaimana akhirnya serangkaian aksi teror belakangan ini terjadi dan kemudian menyebabkan terorisme kontemporer tersebut muncul di masa kini? Memang banyak faktor yang membuat terorisme tumbuh dan berkembang subur dinegeri yang dikenal dengan keramah tamahan penduduknya ini.

Menjadi Subur dan berkembangnya jaringan terorisme didasari oleh beberapa faktor di Indonesia. Salah satunyaA�adalah karena, *”faktor internal negara/pemerintah”*. Misalnya, angka kemiskinan yang terus meningkat dan terjadi sebagai dampak dari kebijakan rezim yang tidak populer dengan naiknya harga-harga, dapat saja membayangi masyarakat menjadi bagian pemicu terjadinya gerakan aksi teror dan terorisme yang dilalukan secara sporadis. Begitu juga dengan gagalnya negara dalam *”Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat”*, karena dengan tingkat pendidikan masyarakat yang minim. Alhasil, kelompok mereka yang dapat dibujuk rayu untuk menjadi pelaku bom bunuh diri, karena begitu banyaknya masyarakat yang secara relatif memiliki pendidikan dan pengetahuan agama yang minim. Selain itu yang tidak kalah penting adalah, perlakuan hukum yang tidak adil dari rezim pemerintahan yang berkuasa saat ini, yang terkesan tumpul keatas namun sangatlah tajam kebawah.

Selain faktor diatas, ada faktor lainnya juga, yaitu; sebagai akibat dari *”kebijakan eksternal/luar negeri”*. Salah satunya yaitu, jaringan terorisme ISIS dan Al Qaeda yang dibentuk melalui pemahaman dari luar indonesia, sebagai akibat kebijakan global. Yang jaringan tersebut tidak bisa di lepaskan dari keterlibatan pihak luar, Karena jaringan terorisme internasional memang cukup kuat dalam memberikan dukungan logistik. Misalnya, pasokan persenjataan, dan bom yang dibuat secara pabrikasi oleh jaringan kelompok tersebut. Tak hanya itu, jaringan internasional tersebut, terkadang memberikan sokongan dana untuk melakukan aksi-aksi teror secara global. Bahkan, mereka sudah ada ikatan emosional yang begitu kuatnya antara jaringan teroris lokal dengan jaringan terorisme internasional.

Selain kedua faktor tersebut diatas yang mendasari terjadinya pemahaman terorisme, ada juga pemahaman terorisme yang disebabkan oleh *”faktor ideologi dan kultural”*. Yaitu, dengan masih banyaknya ditemukan paradigma berfikir dikalangan sebagian orang yang memiliki pemahaman yang begitu sempit dalam menterjemahkan nilai-nilai jihad dalam agama yang berkembang di tengah masyarakat luas. Sehingga dampaknya mengakibatkan, pelaku tindakan teror atau terorisme tersebut dengan mudah untuk dapat dipengaruhi, atau secara sukarela mengikuti pemberi pengaruh untuk melakukan teror dan tindakan terorisme kepada masyarakat luas.

Jika persoalan teror dan terorisme itu dilatar belakangi oleh persoalan ideologi lain selain pancasila serta kultur, maka seharusnya terorisme tidak hanya diselesaikan dengan cara penindakan saja oleh BNPT ataupun Densus 88, namun juga kedua instansi tersebut harus berupaya melakukan pencegahan, yaitu dengan melakukan upaya deradikalisasi terhadap orang atau kelompok yang memiliki pemahaman sempit tentang makna jihad dalam agama tersebut. Metodelogi deradikalisasi bisa dilakukan dengan mengajak mereka berdialog bersama dengan para ulama yang memiliki pemahaman moderat dan mengerti filosofi makna jihad yang sesungguhnya.

Melihat modus teror dan kegiatan teorisme yang terjadi menjelang tibanya bulan ramadhan dua tahun belakangan ini, secara pribadi saya meyakini kalau para pelaku tersebut bukanlah orang beragama atau yang memiliki agama. Disini saya melihat para pelaku kegiatan teror atau terorisme tersebut adalah Psikopat (orang sakit jiwa) yang juga penganut ideologi radikal karena sepertinya tindakan tersebut sangat tersistematis, dan dilakukan agar menyebarkan rasa ketakutan publik dan menimbulkan korban tidak berdosa dalam jumlah yang begitu banyak.

Tampaknya hari demi hari yang kita lalui dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan semakin berat, karena pada akhirnya teror dan terorisme ini lahir sebagai akibat dari tumpulnya *”Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila”*, Sebagai lembaga pengembangan ideologi. Seharusnya lembaga ini dapat menjadi, *”Ujung Tombak sekaligus sebagai central pembangunan ideologi pancasila”*, yang punya kemampuan untuk melakukan deradikalisasi dan merubah pemahaman radikal kelompok teror dan para penggiat pemahaman radikal yang ada di negeri ini.

Tidak kurang dari dua trilyun rupiah uang apbn yang dialokasikan kepada lembaga UKPPIP, yang hingga kini tidak jelas program kerjanya. Karena hingga saat ini masih ada masyarakat kita yang masih belum menerima pancasila sebagai ideologi karena pemahaman “ideologi dan kultur” yang sempit, dan ada begitu banyak tahanan terorisme di mako brimob yang belum bisa menerima pancasila sebagai ideologi atau nilai-nilai luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sel-sel kelompok teror dan pelaku terorisme yang masih hidup dan berkembang dinegeri ini, yang mengusung ideologi diluar pancasila dan katanya ditunggangi oleh kelompok jaringan ISIS, menjadi pekerjaan rumah bersama karena bukan hanya kerja BNPT dan Densus 88 tapi semua pihak dan stage holder yang terlibat dalam membuat praktikum mengenai deradikalisasi dinegeri ini terlebih lagi UKPPIP harus bisa terlibat lebih dalam untuk mengatasi persoalan ideologi yang diusung anak negeri ini diluar ideologi pancasila.

Seluruh umat manusia yang ada dinegeri ini pastinya mengecam tragedi teror yang terjadi, dan seluruh umat manusia dinegeri ini pastinya menyerukan pesan perdamaian atas tragedi teror mako brimob dan bom gereja di surabaya. Hanya saja ini tidak boleh hanya sekedar kecaman dan kutukan keras kepada para pelaku teror, tapi juga sebagai pesan agar tni/polri mau bekerjasama untuk menangani persoalan aksi teror dan terorisme tersebut. Selain itu teror di mako brimob dan aksi teroris di surabaya seharusnya bisa menjadi ajang bersatunya masyarakat melawan aksi-aksi teror dan terorisme dinegeri tercinta.

Belajar dari dua kasus teror di mako brimob dan pemboman biadab tiga gereja di surabaya, serta teror-teror yang ingin membuat retaknya persatuan nasional harus segera diungkap secara tuntas oleh aparatur penegak hukum. Selain itu aparat penegak hukum dan pemerintah juga mau menindak dengan tegas pelaku teror lainnya yang melakukan provokasi dan tindakan teror terhadap para kyai dan pelemparan miras ke jamaah masjid beberapa waktu lalu, yang dilakukan untuk mencedrai persatuan nasional dan bertindak sesuai aspek keadilan publik.

Selain aksi teror di mako brimob dan tiga gereja di surabaya ada banyak aksi teror yang sangat ditakuti oleh masyarakat yang hanya bisa dihentikan oleh pemerintah saat ini, yaitu; teror kenaikan harga bahan pokok menjelang ramadhan dan hari raya, teror kenaikan tarif tarif dasar listrik, teror kenaikan tol, teror kenaikan harga bbm serta teror kenaikan tarif seluler dan lain sebagainya. Agar hal tersebut, dapat meredam aksi-aksi teror yang bisa menggunakan masyarakat miskin sebagai alat untuk melakukan tindakan terorisme dimasa mendatang.

Sebagai pesan penutup, sebaiknya presiden jokowi membubarkan, atau meninjau ulang keberadaan UKPPIP karena hanya menjadi lembaga yang bisa dianggap gagal dan tidak kreatif serta kurang efektif keberadaannya dalam membantu mensosialisasikan ideologi pancasila kepada seluruh rakyat indonesia, ketimbang dana UKPPIP yang berasal dari APBN dipergunakan untuk hal-hal yang tidak jelas. Atau setidaknya tuan presiden mengganti pelaksana tugas tim tersebut, agar memiliki program yang terstruktur rapi dan lebih terorganisir yang dapat membantu kinerja tuan presiden.

Wauwlahhul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,
Wassallamualaikum Wr, Wb.
Jakarta, 14 Mei 2018
Pukul 07.42 BBWI
?Y�?PYN?Y�?

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *