‘MENGUBUR JENAZAH’

SEORANG Penulis dan Pujangga, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata, meskipun betapa hebat dan pintarnya seseorang, bila ia tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.

Barangkali, ucapan itu ada benarnya. Oleh karena itu, tidak ada salah, bila kita luangkan waktu untuk menulis sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi sesama.

Hari ini aku mendengar berita duka telah meninggal ibunda dari seorang sahabatku, bernama Tavip. Ia adalah teman SMA seangkatan denganku di Tanjungpandan pada dekade 1980-an.

Berita duka ini mengingatkanku kembali pada saat aku duduk di bangku SMA dulu. Aku pernah ikut mengubur jenazah ayah dari seorang sahabatku yang meninggal di kala itu. Almarhum bernama Toemidjo. Beliau adalah orang Jawa yang bekerja di Bea Cukai, Pelabuhan Tanjungpandan. Bea Cukai di kala itu disebut ” Duane”.

Ketika Pak Toemidjo ini meninggal, aku langsung melayat ke rumahnya. Setelah selesai dimandikan dan dishalatkan, lalu almarhum dibawa ke pemakaman yang terletak di Kampung Ujung. Lokasi pemakaman itu tidak jauh dari rumahku Jalan Madura, Kampung Amau. Maka jenazah diantar ke pemakaman dengan berjalan kaki.

Karena almarhum adalah seorang Muslim, maka doa dan upacara pemakaman sesuai Islam. Sedangkan, aku adalah seorang penganut Kong Hu Cu. Di era Presiden Soeharto, Kong Hu Cu belum diakui sebagai agama resmi di tanah air. Sehingga sebagian besar penganut Kong Hu Cu menulis agama di KTPnya beragama Budha.

Setelah upacara selesai, lalu jenazah diturunkan ke liang lahat kemudian dikubur. Aku ikut menguburnya memakai cangkul bersama beberapa teman tetangga.

Pada saat aku sedang mengubur jenazah dengan cangkul. Tiba-tiba seorang temanku berteriak:

” Tet…Tet…( nama kecilku Atet) kamu salah pegang cangkul ! “.

” Tanganmu mesti pegang ujung kayu cangkul ” katanya pula.

” Ujung cangkulmu kena temanmu ” katanya sembari tertawa kecil.

Setelah itu, aku baru menyadari, bahwa pada saat mengubur jenazah, satu tangan kita mesti memegang ujung kayu cangkul. Supaya ujung kayunya tidak menusuk teman lain yang ikut mengubur. Sebab diantara pengubur itu, akan saling membelakangi saat mengubur jenazah.

Itulah sedikit pengalamanku, mengubur orang yang meninggal. Ada pepatah mengatakan, sering-sering shalat, sebelum kita dishalat orang lain. Namun aku punya pengalaman tersendiri. Mengubur orang, sebelum aku dikubur orang lain.

Jakarta, 06 Juli 2017
Kurnianto Purnama, SH.MH.
kurnianto_purnama@yahoo.com

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *