“Sintesa Kultural Hak Asasi Manusia dan La Ilaha Illallah”

Oleh: Denny JA

SEBUAH Sintesa peradaban perlu diupayakan.

Sinergi kultur barat dan prinsip Islam berharga dieksplorasi. Sekecil apapun, langkah akulturasi hak asasi manusia dunia barat dan sikap hidup Tauhid dunia Islam perlu diintensifkan.

Itu respon cepat saya di tahun 2015 ketika membaca data. Tiga tahun kemudian, saya tergerak menulis esai ini: Hak Asasi Manusia dengan Spirit La Ilaha Illallah.

Ini data dan fakta baru. Tahun 2070, Islam akan menjadi agama dengan penganut terbesar di dunia. Saat itu penganut agama Islam bukan saja melampaui penganut Agama Kristen, tapi juga melampaui penganut yang agnostik, atheis dan yang tak beragama.

Kesimpulan ini, bukan datang dari prediksi ulama atau harapan ustad di mesjid. Ini hasil riset lembaga terkenal berpusat di Amerika Serikat: Pew Research Center, tahun 2015. Analisa demografi dilakukan lembaga ini dengan melihat rata rata kecepatan pertumbuhan penganut agama.

Pertumbuhan populasi penganut Islam sekitar 73 persen dari tahun 2010-2050. Dalam periode yang sama, pertumbuhan populasi Kristen hanya 37 persen saja. Pertumbuhan mereka yang atheis, agnostik dan non-religius lebih rendah lagi. Di tahun 2050, prosentase mereka yang atheis, agnostik dan non-religius merosot dari 16.4 persen menjadi 13.2 persen.

Sebagai agama dengan penganut terbesar dunia di tahun 2070, baik dan buruk yang terjadi pada komunitas terbesar ini akan mempengaruhi kualitas dunia.

-000-

Maka peradaban barat akan berhadapan lebih tegas dengan peradaban Islam. Mereka akan berdiri lebih sejajar. Barat dominan dari sisi pencapaian ilmu pengetahuan, kekuatan militer dan bisnis. Peradaban Islam menyimpan banyak potensialitas dan pada saatnya punya populasi terbanyak dunia.

Jika dua peradaban besar berjumpa, apa yang terjadi? Bisa lahir konfrontasi, clash dan kekerasan antar komunitas. Ini mungkin karena berbedanya konsep baik dan buruk, berjaraknya prinsip moralitas dan kepentingan.

Mungkin pula tercipta separation, terpisahnya dua dunia yang tak melebur. Walau mereka berada di ruang yang sama, namun peradaban barat dan Islam seperti minyak dan air.

Bisa pula terbentuk dominasi. Satu peradaban mendominasi peradaban lain dengan paksa. Akan lebih rumit lagi jika ada kekuasaan yang memaksakan sistem nilai tertentu. Ini terjadi tak hanya di negara Muslim konservatif yang menghukum LGBT, misalnya. Namun bisa juga terjadi di negara maju yang publiknya memusuhi imigran Muslim.

Dapat juga terjadi adaptasi. Peradaban yang inferior pelan pelan terserap pada peradaban yang lebih superior.

Namun kita dapat mengembangkan pola pertemuan peradaban di luar itu. Perlu diikhtiarkan sinerji positif unsur terbaik peradaban barat dan Islam. Untuk dunia sosial, dari Barat bisa diambil prinsip Hak Asasi Manusia sebagai common ground ruang publik.

Tapi apa yang dapat disumbangkan oleh doktrin dan peradaban Islam untuk memperkaya prinsip hak asasi manusia?

-000-

Problemnya, sejarah pernah mencatat ai???clash of mindai??? sekumpulan negara Islam atas konsep hak asasi manusia PBB. Merespon deklarasi hak asasi manusia PBB, lahirlah Deklarasi Kairo tahun 1990. Deklarasi ini ditanda tangani oleh 45 negara yang mayoritasnya Muslim.

Deklarasi Kairo mengakui Hak Asasi Manusia sejauh tidak bertentangan dengan Syariah Islam. Akibatnya, banyak yang menjadi hak asasi dalam deklarasi PBB juga menjadi hak asasi dalam Deklarasi Kairo. Namun ada juga yang menjadi hak asasi dalam Deklarasi PBB justru menjadi larangan dalam Deklarasi Kairo.

Clash of mind itu terjadi untuk isu, misalnya, pindah agama, dan menikah dengan pasangan beda agama. Dalam deklarasi PBB, itu menjadi hak asasi setiap individu untuk berpindah agama atau menikah dengan penganut agama yang berbeda. Dalam deklarasi Kairo, sebagaimana yang dirumuskan dalam hukum syariah, pindah agama itu dihukum sangat keras.

Clash of mind terjadi juga untuk isu LGBT. Berdasarkan piagam hak asasi manusia PBB, sampai tahun 2017, 20 negara sudah membolehkan pernikahan sejenis. Termasuk di dalamnya: Belanda, Amerika Serikat, Brazil, Afrika Selatan, Australia. Namun di beberapa negara Islam, LGBT itu bisa dihukum mati.

Dalam praktek, di negara Islam kini banyak terjadi moderasi. Walau tak ada hukum resmi di negara Muslim yang membolehkan LGBT, tapi mereka yang LGBT juga bebas tidak ditangkap hanya karena isu LGBT semata.

Dubai menjadi contoh mutakhir. Secara resmi negara ini tidak mencabut aturannya. Mereka yang LGBT yang tertangkap dapat dihukum mulai dari 10 tahun sampai hukuman mati.

Tapi dalam praktek, karena Dubai berkembang menjadi pusat parawisata internasional, dunia LGBT lebih bebas di sana. Harley Richardson menulis di The Sun, 28 November 2016. Tulisnya, kini bahkan tumbuh banyak club bagi kaum Gay di Dubai. Iapun menampilkan foto kaum gay dalam club malam di Dubai itu. Wajah ceria lengkap dengan gemulainya nampak di foto.

Apakah Islam di Dubai berubah membolehkan LGBT? Hukum di Dubai tidak berubah sama sekali. Tapi dalam praktek terjadi semacam penyesuaian. Ketika bisnis parawisata internasional dipentingkan, keberagaman pelancong dan gaya hidupnya harus pula ditoleransi.

Di mata hukum internasional, menjadi LGBT bukanlah tindakan kriminal seperti dagang narkoba. Bahkan dalam Piagam PBB, LGBT sudah menjadi hak asasi manusia.

Dubai menjadi kasus kongket bagaimana trend mutakhir negara Muslim yang membuka diri pada dunia luar merespon LGBT. Sinerji peradaban barat dan dunia Islam terus belangsung dengan aneka warna.

-000-

PBB sudah merumuskan doktrin dan daftar apa saja yang termasuk dalam Hak Asasi Manusia. Daya terima komunitas Islam terhadap prinsip hak asasi manusa itu juga sangat beragam. Komunitas Islam sendiri ada yang sangat liberal seperti Progresive Muslim di Amerika Serikat. Ada yang sangat konservatif seperti Taliban di Afganistan.

Pew Research Center, misalnya, pernah membuat survei bagaimana ragam kaum Muslim menerima nilai Hak Asasi Manusia. Progresive Muslim di Amerika Serikat bahkan memiliki mesjid untuk ikut menikahkan LGBT. Namun terjadi pula di Timur Tengah. Seorang LGBT dihukum dijatuhkan dari puncak gedung.

Dalam operasi prinsip Hak Asasi Manusia, Komunitas Muslim tak perlu bersetuju menjadikan prinsip Hak Asasi Manusia sebagai filsafat hidupnya. Yang diperlukan hanya bertoleransi atas hak asasi orang lain. Yaitu sikap menghormati individu lain yang memilih hidup berbeda.

Praktis komunitas Muslim bisa bertoleransi soal perbedaan etnis, atau warna kulit misalnya. Namun ada keberagaman dalam penerimaan schism agama (Sunni, Syiah, Ahmadiah), Hak warga pindah agama, dan yang paling keras: hak kaum LGBT. Inilah daftar minor Hak asasi yang tersisa yang masih problematis di dunia Islam.

Komunitas Islam juga tak sekedar menjadi penerima pasif ekspansi sistem nilai dunia barat. Peradaban dan doktrin Islam menyimpan begitu banyak mutiara, yang sangat bisa memperkaya peradaban barat.

Satu yang terpenting adalah sikap hidup Tauhid, yang sudah dieksplor dalam artikel sebelumnya. Prinsip La Ilaha Illallah: tiada tuhan selain Allah adalah konsep pembebasan manusia yang sangat mendasar.

Manusia dibebaskan dari penyembahan, orientasi atau dominasi tuhan- tuhan kecil (harta, kuasa, pemimpin, guru suci, negara, ideologi, dll). Konsep ini membuat manusia tegak berdiri sejajar secara kodrati dengan sesama manusia lain. Manusia secara hakekat duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, terlepas dari background status sosial ekonominya. Itulah sumber spiritual hak asasi manusia yang asli.

David Boeis seorang pengacara. Ia terbiasa mencari kesepakatan pihak yang bertikai. Ujarnya, dalam 10 isu, bisa jadi kita berbeda banyak sekali. Namun jika bisa ketemu satu saja pandangan yang sama di satu isu, itu berita baik. Untuk bersepakat, menurut Boeis, mulailah mencari common ground.

Situasi meminta kita tak henti mencari common ground peradaban barat dan prinsip hidup Islam.

Itu akan terjadi ketika semakin diterimanya prinsip hak asasi manusia PBB di kalangan komunitas Muslim. Di sisi lain, prinsip hidup La Ilalah Illallah mengalami universalisasi, diyakini juga oleh mereka yang tidak beragama Islam secara resmi.***

7 Januari 2018

Link: https://t.co/RONBFC8lkP

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *