‘SETETES EMBUN DI PADANG GERSANG’

Oleh: Henny Mareta

KETIKA Itu kulihat jam berdetak teratur menunjukan pukul 8 malam.

Saat itulah, mobil yang kami kendarai bergerak meluncur meninggalkan rumah orang tuaku, di sebuah perumahan di Bilangan Jakarta Barat. Dengan terlebih dahulu melewati tikungan, melalui jalan sedikit menanjak.

Tepat di depan kami, terbentang jalan rel kereta api, yang kebetulan banyak kereta tak lewat di jalur rel sini. Kalau pun ada kereta yang lewat,  biasanya cuma melaju berkecepatan rendah, mungkin disebabkan tak jauh sebelum lintasan rel itu, ada pemberhentian.

Saat kami sedang berjalan, secara tiba-tiba, kami dikejutkan dengan munculnya seorang pemuda kampung yang menyetop mobil kami secara mendadak. Betapa terkejutnya aku. Jantungku sampai langsung merasa berdebar. Lalu, rasa was-was pun menyelimutiku, mungkin juga penumpang yang lain yang berkendara di dalam mobil bersamaku, ikut merasakan rasa ini. Kami merasa takut juga, dengan berprasangka kalau-kalau orang itu adalah orang jahat, yang bermaksud merampok kami.

Bahkan pikiran buruk sempat menghinggapiku secara sekilas. Ah, pasti mereka mau minta uang, pikirku saat itu. Bahkan, pikiran yang sama rupanya ada juga pada suamiku, ketika saat itu dia sempat berbisik ke telingaku. Kami saat itu bisa dikatakan dalam suasana tegang.

Jika mengingat kondisi ibukota saat itu,  memang di kota besar seperti Jakarta ini, terkadang informasi atau pun kejadian berupa adanya tindakan kriminal, sudah bukan hal asing lagi.

Bahkan faktanya, kita sering juga diganggu oknum preman atau apalah namanya, yang terkadang menyetop kendaraan dan meminta uang pada pengendaranya.

Dalam kondisi buruk seperti itu, terkadang lagi kalau permintaan oknum preman itu tidak diberi? maka biasanya dengan kasar, mereka akan mengetuk-ngetuk jendela mobil atau memaki-maki dengan umpatan kasar, supaya pengendara merasa takut, atau bahkan bisa saja terjadi situasi yang lebih gawat lagi, yaitu mereka tak segan-segan mengeluarkan senjata tajam, untuk memaksa pengendara memberikan apa yang mereka minta.

Mengacu pada fenomena itu semua, maka dengan rasa curiga bercampur cemas, kami pun menunggu apa yang akan terjadi, sambil memperlambat laju kendaraan. Namun, kenyataan tak terduga langsung kami alami, begitu tak lama setelah mobil kami berhenti, tanpa disangka-sangka sebelumnya, kami malah dikejutkan dengan bunyi sirine panjang, serta suara gesekan rel yang dilewati kereta api.

Aku pun terkesiap, sambil berkata dalam hati, astaga! Pasalnya, aku dan penumpang lain yang ada di dalam mobil baru tersadar, kalau pemuda tadi yang telah menyetop mobil kami ini,  karena mengingatkan kami untuk menghentikan kendaraan yang kami tumpangi, mengingat adanya kereta api yang melintas!

Setelah kereta berlalu, lalu kami pun sibuk mencari-cari uang, untuk diberikan kepada pemuda tadi yang menyetop mobil kami.

Biasalah, ini kan Jakarta! Terkadang untuk melewati putaran saja, biasanya kami harus memberi sedikit uang pada “pak ogah” atau “polisi cepek”. Maka itu, selembar uang ribuan telah kami siapkan saat itu.

Namun kami sangat terkejut. Pasalnya, ketika kami membuka kaca jendela mobil untuk memberi uang kepada pemuda bersangkutan, ternyata kami tidak melihat lagi sosok pemuda itu! “hei, kemana perginya pemuda tadi?” teriakku secara spontan.

Rupanya, pemuda yang telah menolong kami tadi, malah menghilang ditengah kegelapan malam. Lagi-lagi, dugaan kami keliru. Ternyata, disamping telah menolong kami, pemuda itu bahkan tidak mengharapkan imbalan apapun dari kami.

Tentunya, kami sempat dibuat tak percaya atas kenyataan ini. Sebab, perbuatan baik yang telah dilakukan oleh pemuda tadi kepada kami, merupakan sikap atau perbuatan yang akhir-akhir ini, bisa dikatakan telah menjadi barang langka, di kehidupan Kota Jakarta ini.

Apalagi sejak kerusuhan Mei Tahun 1998 silam, terkadang lagi kami jadi mudah curiga dan alergi dengan namanya “abang-abang” yang berpenampilan lusuh. Sedangkan kejadian di atas, terasa begitu kontras dengan keadaan ibukota belakangan ini.

Apalagi banyak orang sering berucap, “Bukankah kita semua tak lagi pernah menemukan sesuatu yang gratis?”.

Faktanya, hidup di zaman saat itu, dan juga mungkin saat ini pun, kita sudah sangat asing dengan yang namanya sikap tulus ikhlas, sukarela atau tolong menolong. Seringkali kehidupan sehari-hari kita, selalu berkutat antara bisa dibeli berapa? Atau pertanyaan sebaliknya, apa ada yang tak bisa dibeli?.

Ah, seandainya saja ditiap sudut Kota Jakarta jatuh “setetes embun” yang bisa menyejukkan, tentunya kotaku tak akan sepanas ini.

Demikian itulah, kondisi ibukota tempatku berdiam bersama sanak familiku. Semoga saja, selalu ada kedamaian dan kerukunan dalam tata kehidupan di “kota” ku ini. Amiin.

 

Biodata singkat penulis :

HENNY MARETA. Lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur 7 Maret 1969. Lulusan Akademi Sekretaris Tarakanita. Sejak kecil banyak menaruh perhatian kepada dunia sastra.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *