‘SAM KOK Dan PUSARAN KEKUASAAN’

SEKITAR Pertengahan Tahun 2011 lalu, aku pernah menonton sebuah film di bioskop di Bilangan Pluit, Jakarta.

Kalau tak salah, Judul film yang ku tonton saat itu adalah ” The Lost Bladesman”.

Filmnya diperankan Donny Yen. Film itu mengisahkan kesetiaan dan kepahlawanan seorang Jenderal Guan Yu, sering disebut juga Guan Gong. Kurun waktu sejarah tahun 220 sampai 280 Masehi.

Di Tiongkok pada kurun waktu itu, berdiri 3 kerajaan yang saling berperang. Yakni Negara WEI, Rajanya Cao Cao. Negara SHU, Rajanya Liu Bei dan negara WU, Rajanya Sun Quan.

Ketiga kerajaan ini, saling berperang dengan strategi perang yang sangat jago untuk memperebutkan tanah dan kekuasaan. Berhubung saling berperang selama 60 tahun, maka telah menyebabkan banyak jenderal gugur dan jumlah prajurit yang tak terbilang gugur di medan perang.

Pada suatu ketika dalam akhir perjalanan perang dan dikala usia menjelang tua, Jenderal Guan Gong tertangkap musuh, lalu kepalanya dipenggal dan tewas. Kemudian kepalanya diserahkan ke Raja Cao Cao, musuh negaranya. Lalu Raja Liu Bei sangat shok, marah besar dan sedih karena kehilangan adik angkatnya itu.

Kesedihan ini bertambah mendalam ketika adik angkatnya Zhang Fei juga tewas karena terbunuh dan kepalanya dipenggal dan diserahkan ke Raja Cao Cao. Setelah itu, Raja Liu Bei mulai sakit-sakitan, pada akhirnya ia wafat pada usia 63 tahun.

Begitu pula Raja Cao Cao sering mengalami sakit kepala serius. Berobat tidak sembuh-sembuh, kemudian tabib Hua Tuo mengatakan kepalanya mesti dioperasi. Lantaran dia mencurigai tabib itu mau membunuhnya, maka tabib itu dicambuk dan dimasukan ke sel tahanan.

Disebabkan sakit kepala yang tak sembuh-sembuh, akhirnya Cao Cao mati di usia 66 tahun.

Begitu pula, Raja Sun Quan wafat pada usia 71 tahun, disebabkan penyakit stres dan kaget yang berlebihan.

Pada akhirnya, ketiga raja ini mati semua. Lantas ketiga negara ini hancur dan runtuh ditumpas oleh Dinasti Jin Barat (265-317) dan Jin Timur (317-420).

Dalam hatiku merenung, sebetulnya apa gunanya berperang dan berebut kekuasaan? Berpuluh-puluh tahun usia ketiga raja itu dan rakyatnya dihabiskan untuk saling berperang dan saling membunuh, hanya untuk memperebutkan tanah dan kekuasaan.

Namun, apa yang diperebutkan tak pernah didapatnya. Malahan, akhirnya ketiga raja ini mati semua bahkan negara mereka hancur dan runtuh serta dikuasai negara lain, karena sudah lemah akibat perang.

Pepatah Tiongkok mengatakan “Sejak zaman dahulu, siapa yang tak pernah mati “. Itulah hidup manusia di dunia ini. Hanyalah sebentar. Bila hidup ini hanya sebentar, untuk apa selama hidup ini, digunakan untuk berperang dan saling membunuh? Manusia tidak hanya perlu pintar, tapi ia perlu bijak pula.

Jakarta, 7 Oktober 2017
Kurnianto Purnama, SH.MH.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *