Indonesia Butuh Capres Berjiwa “Petarung” dan Anti Neolib

JAKARTA — Mengacu pada pemberitaan yang mengungkapkan Lembaga Survey Media Survei Nasional (Median) pimpinan Rico Marbun, pada Senin (2/10/2017) lalu,  yang merilis hasil survei dengan menyebutkan bahwa 40,6% publik saat ini, menginginkan adanya calon presiden (capres) alternatif selain Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang, dimana untuk pertama kalinya pilpres nanti akan berbarengan dengan Pemilihan Legislatif (Pileg).

Jika mengacu pada hasil survei Median tersebut, dimana sebanyak 36,2% masyarakat pemilih masih menginginkan Jokowi dan hanya 23,2% persen yang menginginkan Prabowo Subianto. Ini artinya, dua nama tersebut masih belum aman untuk bertarung di Pilpres mendatang.

Menanggapi hasil survei Median itu, pengamat kebijakan publik Syafril Sjofyan mengatakan saat ini yang dibutuhkan Indonesia saat bukan ahli militer karena bukan dalam suasana perang, bukan juga ahli hukum karena jika hukum ditegakkan sama terhadap setiap orang, maka akan bisa diatasi. Menurutnya Indonesia butuh pemimpin yang petarung.

“Indonesia ini ekonominya tertinggal dari negara Asia bahkan dari Asia Tenggara. RRC yang sama miskin 50 tahun yang lalu dengan NKRI, jauh lebih maju dan sejahtera. Kita ini sebenarnya butuh pemimpin seorang petarung,” ujar Syafril Sjofyan kepada redaksi cakrawarta.com, Kamis (5/10/2017) pagi.

Lebih lanjut, Syafril memaparkan bahwa pemimpin petarung itu adalah sosok yang sangat ahli di bidang ekonomi, mampu mengelola hutang negara, meningkatkan kemandirian dengan tak menambah hutang dan mampu melonjakkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 – 9 % hingga bisa mengejar ketertinggalan dari RRC.

Menurut aktivis pergerakan 77/78 itu, di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angka pertumbuhan stak di angka 6%, sedangkan di era kepemimpinan Jokowi masih stabil di angka 5%. Karenanya sosok pemimpin petarung ini adalah ia yang dengan kapasitas dan kapabilitasnya yang terbukti melalui pembacaan track record-nya.

Sampai saat ini  misalnya baik SBY maupun Jokowi masih belum mampu memperkecil jurang antara si kaya dan si miskin. Bahkan untuk sekedar mampu menyamakan harga kebutuhan pokok seperti daging, gula dan lainnya dengan harga di luar negeri seperti Malaysia masih belum bisa.

Saat mencoba mengkonfirmasi siapakah sosok calon pemimpin tipe petarung yang dimaksud oleh Syafril Sjofyan, tanpa menyebut nama, pria murah senyum ini memberikan jawaban.

“Track record yang teruji sebagai petarung dan ahli ekonomi dengan keberpihakan yang jelas terhadap rakyat di Indonesia saat ini hanya ada satu. Ekonom yang anti neolib yang konsisten sejak dulu juga cuman satu. Ya dialah orangnya. Silakan diterjemahkan sendiri ya,” tandasnya, dengan senyum sekaligus mengakhiri keterangannya. (rmol.com/bambang)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *