Sahabatku Dadan “Akap” dan Aif “Nata”

JIKA Mengacu Taqdir maka manusia itu diciptakan sebagai makhluk individual dan sekaligus makhluk sosial.

Sedangkan didalam kehidupan dan lingkungan sosial, manusia tentunya harus bersosialisasi. Adapun Lingkungan sosial itu, bisa bermacam-macam, misalnya sekolah, kampus, kantor dan laiinya.

Bahkan bisa dikatakan, kalau dunia ini sebenernya adalah lingkungan sosial dalam skala besar, yang terdiri dari berbagai macam negara yang berada dibeberapa benua.

Dalam lingkungan sosial itu pula, kita sebagai manusia menemukan berbagai macam bentuk, asal dan karakter orang-orang. Tapi dari sinilah kita mulai mengenal yang namanya teman atau sahabat, baik itu mulai dari lingkungan sekolah taman kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA atau yang sederajat, hingga berada dalam lingkungan kuliah atau kampus, yang pernah atau sekarang sedang menjalaninya.

Tentunya, semakin luas lingkungan bersosialisasinya, maka semakin beragam pula karakter orang yang bisa ditemukan atau dijumpai.

Apalagi sejak kuliah misalnya, serasa ada di miniatur Indonesia mini saat itu, padahal saat itu berada di lingkungan kampus.

Memang faktanya, kampus merupakan kumpulan mahasiswa dari seluruh pelosok Indonesia.

Sedangkan ketika dulu zamannya sekolah di TK sampai SMA, itu pergaulannya terbatas anak-anak itu saja, sehingga secara garis besar relatif sama karakter orang-orangnya.

Nah sejak kuliah itulah, kita menemukan teman-teman dengan latar belakang bermacam-macam, yaitu ada yang berasal dari Aceh, Nias, Medan, Padang, Riau, Palembang, Sunda, Jawa, kalimantan, Sulawesi, Maluku, Flores, Papua dan lainya.

Meskipun kita tahu, penduduk paling banyak bertempat tinggal di Pulau Jawa.

Berbagai asal daerah itu, tentunya juga dibarengi dengan berbagai macam sifat dan dialek bahasa daerahnya masing-masing.

Jika bicara dialek, ternyata bahasa dan dialek bahasa lokal yang ada di Indonesia, terkesan ada yang lucu dan unik-unik, dimana kelucuan dan keunikan ini hampir dari Sabang hingga Merauke.

Dengan demikian, dari berbagai macam teman yang kita miliki, tentunya pasti ada yang memiliki karakter bermacam-macam pula. Karena manusia itu unik. Bahkan anak kembar sekalipun, konon enggak bakalan identik 100 %!

Lalu, dari sekian banyak teman, pasti kita ngak bakal cocok sama semuanya, tentu kita ada yang merasa nyaman, dekat dengan dia, atau juga ada yang tidak.

Misalnya saja, mungkin saja kita punya teman yang biasanya kita nyaman berada di sampingnya, karena bisa sharing dan merasa nyambung ngobrolnya, terkadang teman inilah yang bisa dijadikan sahabat. meskipun proses dari temen menjadi sahabat, untuk setiap orang pasti berbeda.

Terus timbul pertanyaan, apa sih definisi sahabat itu? Menurut berbagai literatur, sahabat itu bisa dibilang teman dekat. jawaban simple kan?.

Tapi ada yang berkata, Sahabat itu adalah teman yang bisa nerima kelebihan dan kekurangan kita apa adanya. Sahabat itu, mau berkata jujur dengan keadaan kita yang sebenarnya. Sahabat itu juga dapat berbagi dengan kita dalam keadaan senang maupun susah. Dengan demikian, Sahabat itu mestinya bisa membuat hidup kita lebih bermakna dan berarti.

Karena itu, mempunyai satu sahabat sejati, lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. Apa yang kita alami demi persahabatan, kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Walauoun Persahabatan sering didera oleh cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu, bahkan dapat bertumbuh dan berkembang dengan adanya cobaan tersebut.

Seringkali, Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur, disakiti, diperhatikan, dikecewakan dan lainya. Tapi yang namanya sahabat tak kan mempermasalahkan itu.

Bicara tentang sahabat ini, mengingatkan pada dua orang sahabat saya dulu semasa kuliah di Prodi Administrasi Bisnis FISIP Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Jawa Barat, sekitar tahun 1996 hingga tahun 2000 silam.

Dua orang sahabat saya itu, satunya bernama Dadan Ardiansyah dan satunya lagi, Arief Zakaria.

Dadan Ardiansyah akrab disapa Dadan “Akap” asal Cianjur, sedangkan Arief Zakaria biasa dipanggil Aif “Nata” asal Bandung.

Kedua temenku ini berbeda karakter dan bentuk wajahnya. Dadan cenderung gaul dan punya wajah “handsome” dikit. Sedangkan Aif, cenderung introvet dan memiliki wajah “imut”.

Dalam hal kesukaan, Dadan lebih suka petualangan dan minum susu murni “pengalengan”, sedangkan Aif menggemari musik dan penyuka jajanan dodol “Garut”.

Untuk hal cinta, terlihat Dadan lebih suka cewek putih tinggi, sedangkan Aif sebaliknya suka cewek putih, rambut panjang, bahenol dan semlohay (hihihi) .

Meski punya banyak perbedaan, tapi Dadan dan Aif terus bersahabat hingga saat ini.

Pun tanpa sengaja, beberapa waktu lalu, saya secara kebetulan berjumpa dengan kedua cowok “handsome dan Imut” ini, di sekitar kawasan hiburan malam Jalan Braga, Kota Bandung.

Saat itu, ku lihat penampilan Dadan tak terlalu berubah banyak, saat kuliah dulu. Wajahnya tetap bersih dan keren, sehingga terlihat bisa “menjebak” lawan jenisnya. Tapi ada yang bikin aku salut saat itu, Dadan ketemu dengan Aif sambil “membawa” bini dan anak-anaknya. Hebat, type cowok yang setia (malam itu)!

Kekagumanku yang lain pada sosok Dadan, ternyata sifat dermawannya ngak berkurang sedikitpun. Bahkan saat itu pun aku ditraktirnya. Menurut Dadan, ada keinginannya yang sampai saat ini belum terealisasi, yaitu menyantuni anak-anak dan janda-janda yatim. Duh, suatu niat yang mulia dan patut dipuji.

“Saya rindu kamu dan sahabat-sahabat kita yang lain, saat kuliah dulu. Kapan ya kita bisa berkumpul semuanya?” ucap Dadan spontan kepadaku, saat malam itu.

Beda debgan Dadan, malam itu ku jumpai juga Aif, di dalam suasana pertunjukan hiburan musik disalahsatu lokasi hiburan musik di Jalan Braga.

Aif, ku lihat masih cinta dengan hobinya sebagai salahsatu personil band yang tengah “naik daun” di Kota Bandung.

Penampilannya pun malam itu menyesuaikan dengan profesinya. Masih tetap pakai kaos berbalut jaket kulit, bercelana jeans dan satu barang yang selalu dia pakai ketika kuliah dulu hingga saat ini, yaitu Topi “Pak Tino Sidin”. Hmmm……kereeen bro!

Tapi ada satu perubahan yang buatku juga salut sama Aif, yaitu dia dikabarkan tak pernah lagi “menyentuh” rokok dan mengkonsumsi miras alias minuman keras. Dia terlihat lebih religius saat ini. Wuiihh…cakep bro!

Meski sudah religius, Aif tetap menampilkan cirikhas seorang seniman, yaitu profesional dalam berkerja, dimana malam itu dia memperlihatkan kepada para pengunjung dan juga kepadaku, permainan alat musik Bass, ketika sedang tampil dengan grup band yang digawanginya malam itu. Wuiihh… Asiiik kang bro!

“Yah saya tetap begini. Tetap bekerja sebagai seniman musik. Mungkin ini adalah jalan hidupku,” ucap Aif dengan jujur, sambil minta izin kepadaku untuk foto bersama Dadan.

Selamat bertugas dan semoga sukses kang bro Dadan dan Aif. Doaku selalu menyertaimu sahabat. (net/jon)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *