Pengelolaan Pariwisata Harus Punya Efek Bangkitkan Kreatifitas Masyarakat

KORANFORUM.COM, BELITUNG –– Bicara pengertian pariwisata bila mengacu pada berbagai literatur yang berlaku,  maka pemahaman Pariwisata secara etimologis adalah kata pariwisata yang berasal dari bahasa sansekerta, sesungguhnya bukanlah berarti tourisme (bahasa belanda) atau tourism (bahasa Inggris).

Dalam hal ini,  Kata pariwisata terdiri dari dua suku kata yaitu masing-masing kata pari dan wisata. Pari yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar, lengkap. Sedangkan Wisata, berarti perjalanan, berpergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata travel dalam bahasa inggris.

Jadi Pariwisata bisa diartikan sebagai perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar, dari suatu tempat ke tempat lain.

Selanjutnya, pariwisata adalah perpindahan sementara yang dilakukan dengan tujuan keluar dari pekerjaan-pekerjaan rutin, keluar dari tempat kediamannya.

Pariwisata juga adalah keseluruhan dari elemen-elemen terkait (wisatawan, daerah tujuan wisata, perjalanan, industri, dan lain-lain) yang merupakan akibat dari perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata, sepanjang perjalanan tersebut dilakukan secara tidak permanen.

Mengacu pada salahsatu literatur diatas,  seorang aktifis Pemuda Belitong, Rio,  berpendapat bahwa pengelolaan potensi pariwisata bisa dikatakan sukses apabila memiliki efek positif terhadap kebangkitan daya kreatifitas masyarakat.

“Misalnya saja di Belitong,  sekarang ini travel-travel besar sudah rata-rata membuat kantor di Belitong.
Artinye, segitu banyaknye gegap gempita tamupun, duit akan tetap beredar diluar Belitong. Ini penilaian saya loh,” ucap Rio,  saat menuliskan komentarnya di WAG Bfm Radio di Belitong,  Selasa (19/09/2017).

Dikatakan Rio,  kita semua jangan pernah berbicara efek pariwisata akan berdampak luas, jika kita sendiri tidak berusaha “mengkreatifkan” masyarakat.

Sebab menurutnya,  hanya masyarakat yang punya daya kreatif lah yang dapat menikmati pembagian “kue” pariwisata ini.

“kalo dak gitu, realita saat ini, yang dapat untung adalah kaum yang bermodal. Ape agik kalo ada “mafia” travel la turun, make urang-urang Belitong yang dak ngerti resiko, bisa jadi sasaran empuk,” ucap Rio lagi dengan logat Belitong yang khas.

Diungkapkannya,  selama ini mungjin para pelaku wisata di Belitong, merasa senang-senang saja saat “diberikan” tamu banyak dari pihak luar.

Padahal kalau tidak jelas, bisa beresiko tinggi karena sudah ada contoh kejadian berulang kali, dimana orang Belitong diberi tamu banyak oleh pihak luar, lalu tamu sudah bayar ful, tapi ternyata tidak dibelikan ticket balik, sedangkan pihak luar yang beri tamu iru menghilang entah kemana.

“Urang Belitong kedepan, jadi ketiban tanggungjawab. Tapi ini sebagai cunto aja, karene dak ade konsep dan payung hukum nok jelas dalam kasus ini. Jadi e biak biak hanya menjadi tim hore, saking semangat nak “benarek” kampong e,  sementara urang lain nok nikmate yeee. Mungkin karena aturan nda jelas! siapa yang kuat die yang menang!” ujar Rio masih dengan diselingi logat Belitong yang kental.

Rio berharap,  harus mulai ditertibkan dari dasar atas pengelolaan pariwisata ini.

Pihak travel di Belitong ini harus berbadan hukum yang jelas dan lengkap, sehingga dapat kerjasama secara profesional dengan travel-travel besar.

“La uda itu, kalo travel berbadan hukum, InsyaAllah mereka akan bayar pajak untuk PAD Belitong. Ape agik sekarang ne setiap orang dengan sangat gampangnye buat travel, yang terkesan
travel asal-asalan. Karene muat travel itu, relatif dak perlu modal, mun la kenal semue keperluan tamu selama di Belitong ne make bisak bayar belakangan. Hotel, bis, mubel, tempat makan, boat, semue bisa bayar belakangan. Oknum Travel-travel kimacam gini kan dak kan mungkin dapat dibina dari Dinas Pariwisata.
Terus ape nok dapat diterapkan dari program-program dan konsep dari Dinas Pariwisata neh? Kalo hal yang mendasar ini dak ditertibkan dan diatur, maka makin kesanak makin amburadul,” pungkas Rio. (jon)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *