TOKOH BABEL KRITISI PEMBANGUNAN PDAM BELTIM

foto,andeska 1

foto: wartawan Koran Forum Zaid , sedang melakukan wawancara kepada Tokoh pembentukan Provinsi Babel H. Andeska

 

foto, pdam 7

DINILAI TAK MEMBERIKAN MANFAAT KEPADA MASYARAKAT

Koran Forum, Belitung Timur, Bangka Belitung — Tokoh Pembentukan Provinsi Bangka Belitung asal Kelapa Kampit Belitung Timur H. Usmandi A Andeska melontarkan kritik kerasnya atas kondisi pembangunan proyek Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) di Desa Mentawak Kecamatan Kelapa Kampit Kabupaten Belitung Timur Provinsi Bangka Belitung.

Didampingi oleh Tokoh Pemuda Desa Mentawak Mirhamudin, Tokoh Babel yang akrab disapa dengan pangggilan Andeska ini, mengatakan, bahwa, dua proyek yang diduga menelan anggaran negara hingga miliyaran rupiah itu dibandung oleh Pemerintah Provinsi Bangka Belitung melalui Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Babel. Dua proyek itu merupakan pembangunan instalansi air bersih pompa tanpa mesin dan pompa yang menggunakan mesin. Kedua proyek itu, lokasinya saling berdekatan dengan menggunakan aliran air yang sama dengan debit air yang terbilang besar ketika musim hujan dan kecil dimusim kemarau.

foto,pdam 8

Kondisi air yang bergantung dengan musim kemarau dan hujan itu, mengakibatkan sumber airnya tidak jelas bagi pemanfaatan pembangunan proyek air bersih. Keberadaan proyek ini jika dinilai dari sisi manfaat, sangat tidak efektif dengan kebutuhan air yang diperlukan oleh masyarakat Desa Mentawak,dimana masyarakat sangat bergantung kebutuhan air bersihnya, bisa dipenuhi oleh PDAM yang berlokasi di Kelapa Kampit ini. Karena itu, Andeska sangat berharap keberadaan dua proyek PDAM yang dibangun oleh Dinas PU Pemprov Babel ini, dapat disikapi dengan baik oleh Bupati Belitung Timur, Gubernur Babel maupun DPRD Provinsi Babel. Realisasinya, seluruh pengambil kebijakan itu dapat melakukan pengecekan langsung ke lapangan, untuk mengetahui secara langsung kondisi proyek dan manfaatnya bagi masyarakat desa maupun Kecamatan Kelapa Kampit. Dengan demikian, para pejabat tersebut dapat menilai langsung atas realisasi konsep pembangunan PDAM Kelapa Kampit yang diduga dilaksanakan tanpa mengdepankan konsep yang jelas ini.

Dijelaskan Andeska, sebenarnya dua proyek PDAM itu diharapkan mampu menjalankan mekanisme penyaluran air mengunakan pompa tanpa mesin, untuk dimuat kedalam tangki yang kemudian disalurkan ke seluruh rumah masyarakat. Namun harapan itu, bisa terealisasi ketika musim hujan ketika debit air besar. Sebaliknya, fungsi pembangunan dua proyek saluran air bersih itu menjadi bias ketika datangnya musim kemarau, karena kondisi debit air berkurang yang mengakibatkan tidak berfungsinya mesin pompa air pada proyek tersebut. Karena itu Andeska menjadi sangat heran, ketika satu proyek PDAM belum menjalankan fungsinya sesuai yang diharapkan, ternyata Pemprov Babel melalui Dinas PU Babel melaksanakan proyek PDAM baru, yang lokasinya tak berjauhan dengan lokasi pembangunan proyek PDAM yang pertama. Parahnya lagi, pembangunan proyek PDAM yang kedua ini memasang mesin pompa air di danau yang debit airnya sudah mendangkal sekali. Dengan demikian, keberadaan pembangunan proyek PDAM ini tak dirasakan fungsinya oleh masyarakat setempat.

foto, pdam

Kenyataan lainnya, keberadaan pembangunan proyek PDAM yang pertama maupun yang kedua ini, dinilai tak membawa perubahan atas harapan masyarakat Kelapa Kampit untuk mendapatkan kebutuhan air bersih yang didukung oleh pembangunan dua proyek PDAM tersebut. “Sebagai ketua forum pendiri Provinsi Bangka Belitung, saya merasa sangat kecewa dengan arah pembangunan sarana penyaluran air ini yang tidak terkonsep dan efektif, sehingga terkesan asal-asalan tanpa lebih dulu melakukan survey atau mengacu pada aspirasi yang dilontarkan oleh masyarakat,” ujar Andeska.

Dibeberkan andeska, tiga tahun yang lalu tepatnya sekitar tahun 2011 lalu, pemerintah provinsi membangun proyek pengadaan air bersih dengan pompa tanpa mesin yang beroperasi ketika air kolong debitnya besar . Namun ketika debit air kecil, PDAM tidak bisa beroperasi . Hal ini akibat pendangkalan di hilir aliran air yang bisa menghambat aliran air kepemukiman masyarakat. Kondisi ini, mengakibatkan masyarakat tidak bisa menggunakan seperti dulu.

Setelah selesai pembangunan PDAM ini, barulah diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah desa setempat, padahal pemerintah desa belum mempunyai skil dan sumber daya manusia SDM) yang memadai untuk mengelola urusan air bersih ini. Karena itu, Andeska menilai, pembangunan dua proyek PDAM ini merupaakan pembangunan yang tidak efektif dan tak efisien, karena pelaksanaannya tanpa ada koordinasi dulu antara pemerintah Provinsi Babel, yang melalui PU Provinsi Babel Bidang Air Bersih dengan Pemerintah Daerah dan desa tempat proyek ini dilaksanakan. Dengan mengacu kondisi tersebut, terkesan pembangunan PDAM ini adalah proyek droping dan pembangunan yang asal-asalan dan tidak tepat sasaran.

“Supaya pembangunan tepat sasaran perlu adanya koordinasi semua intansi terkait, jangan egois ini merupaka salah satu contoh tidak ada koordinasi yang benar, padahal sama- sama proyek provinsi kenapa tidak berkoordinasi dengan PDAM Beltim bicara lebih dulu. Apalagi terkait air bersih disini, kenapa harus bikin proyek baru lagi, seolah-olah jadi PDAM tandingan. Disini bupati sebagai kepala daerah harus mengerti dan jangan sampai tidur dengan masalah ini, sehingga tidak mengerti ada pembangunan untuk warganya yang kayak gini,” sindir Andeska.

foto, pdam  3

Sementara itu, Tokoh Pemuda Desa Mentawak Kecamatan Kelapa Kampit Mirhamudin, mengatakan, bahwa, pada prinsipnya apapun program untuk masalah pembangunan di daerahnya silahkan dilaksanakan, tetapi semuanya mesti dikaji secara menyeluruh sehingga didapat penilaian sejauh mana baik, yang bisa dilaksanakan sesuai dengan kemampuan pihak pengelolanya. Jika belum mampu, maka sebelum melaksanakannya harus ada bimbingan lebih dulu untuk membekali pengelola agar bisa melakukan pengelolaan atas pelaksanaan pembangunan PDAM tersebut. Karena itu, Ia menilai, proyek PDAM yang dikelola provinsi melalui proyek pengadaan pompa tanpa mesin ini, terkesan tidak melalui perhitungan yang layak. Buktinya, saat ini kedua proyek itu kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini, bukan karena factor teknis alat pompa tapi karena perhituingan debit air yang tak memadai. Belum lagi permasalahan ini selesai, lalu muncul lagi satu proyek berjudul sistem pengelolaan air bersih (SPAM) oleh pemerintah pusat melalui PU Propinsi Babel Bidang Pengolahan Sumber Daya Air, dimana hasil pembangunan ini diserahkan kepihak desa untuk dikelola, padahal pemerintah desa belum mampu untuk mengelolanya, karena memang desa tak merasa mengusulkan pembangunan proyek SPAM itu.

Mengacu pada kenyataan ini, seakan kedua proyek ini seperti proyek TOUCH DOWN atau droping sehingga pemerintah setempat tidak bisa menolaknya. Padahal pemerintah desa setempat ingin membangun suatu program itu dengan lebih dulu melalui Musrenbangdes (musyawarah rencana pembangunan desa), sehingga cita cita atau keinginan pembangunan di suatu itu lebih menekankan pada skala prioritas ditiap-tiap desa.

”Pembangunan dua proyek yang tidak layak dibangun seakan seperti proyek tandingan yang dipaksakan seperti Proyek touch down /droping, sehingga pemerintah setempat tidak bisa menolak dengan sdm yang tidak memadai, seperti ibarat naik sepeda masih oleng malah disuruh menerbangkan pesawat apa jadinya,” tanya Mihram, terkesan menahan emosinya.

foto.pdam 6

Sementara itu, ketika wartawan Koran Forum melakukan konfirmasi kepada Kepala UPTD Pekerjaan Umum Provinsi Bangka Belitung di Belitung Wisnu, beberapa waktu lalu, ternyata yang bersangkutan tak berhasil ditemui karena tak berada di kantornya. Kemudian, wartawan Koran Forum mencoba lagi melakukan konfirmasi lagi kepada Wisnu pada hari Jumat (9/1) lalu di kantornya, tetapi yang bersangkutan kembali tak bisa dijumpai. Staf kantornya mengatakan bahwa Wisnu sedang dinas keluar Kota Tanjungpandan. Lalu, wartawan Koran Forum mencoba lagi menemui Wisnu pada hari Senin (12/1) siang untuk melakukann konfirmasi masalah pembangunan PDAM di Kelapa Kampit Belitung Timur ini, namun yang bersangkutan kembali tak berhasil ditemui, baik di kantor maupun kediamannya, sehingga sampai berita ini diturunkan di media ini, konfirmasi belum didapat dari Wisnu. (ZAID/joni)

 

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *