ai???Pendewasaan Politik ala Yusrilai???

Oleh: Kurnianto Purnama SH, MH

PADA Ai??Awal Februari 2016 silam, Prof. Yusril Ihza Mahendra mendeklarasikan diri maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, periode 2017 – 2022. Beliau adalah seorang akademisi, politisi, negarawan, ahli hukum tata negara dan seorang ketua umum sebuah partai politik (Partai Bulan Bintang) saat ini.

Tentu rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia mengenal sosok Yusril, dan kita tahu pula PBB tidak memperoleh kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta periode 2014 ai??i?? 2019. Partai kecil bukan berarti partai itu tidak diminati oleh para pemilih di suatu daerah, tetapi banyak faktor yang bisa menyebabkan suatu partai menjadi kecil.

Tentu banyak orang tidak bisa menyangkal bahwa salah satu penyebab suatu partai politik tidak banyak pemilih adalah faktor financial. Ditambah diantara partai politik di Tanah Air tidak ada perbedaan doktrin yang kuat lagi, maka masyarakat sekarang cenderung berpikir pragmatis. Uang menjadi faktor utama. Kenapa ada partai tidak memiliki financial? Salah satu sebabnya adalah idealis dan takut melanggar hukum untuk mendapatkan financial.

Karena tidak memiliki kursi di DPRD DKI, akhirnya Yusril melakukan pendekatan ke partai-partai politik yang memiliki kursi di DPRD DKI, supaya mendapat dukungan untuk mengusung beliau menjadi calon Gubernur DKI. Seorang politisi yang besar melalui proses, tentu tujuan menjadi gubernur adalah demi kesejahteraan rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Di sini, saya tidak membicarakan mengenai program pembangunan DKI Jakarta yang dimiliki oleh Yusril, bila beliau terpilih sebagai Gubernur DKI. Akan tetapi, di sini, saya akan melihat karakter atau sikap politik Yusril sebagai seorang politisi dan sebagai seorang negarawan, dimana beliau telah menghilangkan sekat-sekat dan kekakuan diantara partai politik yang ada di Tanah Air.

Yusri telah menunjukkan sikap sebagai seorang politisi dan negarawan dengan melakukan pendekatan ke partai-partai politik untuk mengusung beliau sebagai Calon Gubernur DKI. Hal seperti ini, jarang didapat, sekalipun di negara-negara barat, yang dikatakan sebagai pelopor negara demokrasi.

Sebab, lazimnya partai-partai politik merupakan rival satu dengan yang lain dan mereka saling curiga satu dengan yang lain. Walaupun melakukan pendekatan ke partai politik lain, beliau tidak melunturkan etika dan sopan santun seorang politisi. Itulah yang disebut seorang politisi yang negarawan, beliau tetap melakukan kritik demi kebaikan berbangsa dan bernegara.

Terlepas langkah yang dilakukan Yusril mendapat dukungan atau tidak dari partai-partai politik yang memiliki kursi di DPRD DKI, tetapi langkah-langkah yang dilakukan Yusril, telah mengajarkan kepada rakyat Indoneisa, bagaimana melakukan kegiatan politik secara dewasa dan mengajarkan rakyat Indonesia cara berpolitik dengan intelektual (political intellectual).

Pendekatan politik dan komunikasi politik serta corak politik yang dilakukan Yusril kepada rekan-rekan pemimpin partai politik lain, dimana posisi beliau sebagai pemimpin partai politik juga, maka adegium yang mengatakan ai??? Politik itu keras dan kejam adalah tidak benar ai???. Banyak orang tua, terutama orang Tionghoa yang tidak mengijinkan putra dan putri mereka terjun ke bidang politik, karena melihat kekerasan politik pada masa lalu di Indoneisa. Baik kekerasan terhadap pemimpin partai politik ketika masa Orde Lama maupun pada masa Orde Baru, serta kekerasan terhadap pemimpin partai politik di negara Republik Rakyat Tiongkok , tempat asal orang tua mereka pada masa lalu.

Terutama, peristiwa Revolusi Kebudayaan di Tiongkok, yang digerakkan oleh Mao Ze Dong sebagai puncak perseteruannya dengan Presiden Liu Shao Qi dan kawan-kawan pada tahun 1966-1976. Pada periode itu, diwarnai banyak kekerasan terhadap kaum intelektual, yang merupakan aset bangsa dan negara RRT sendiri.

Corak dan karakter politik yang ada pada Yusril, disertai penghormatan pada penegakkan hukum yang baik, telah mengajarkan dan telah menunjukkan kedewasaan berpolitik dan demokrasi di Tanah Air. Yang akhirnya, dapat menghindari politisi yang berkuasa menindas politisi yang tidak berkuasa. Maka patut dikatakan, kedewasaan berpolitik di Tanah Air lebih intelektual ketimbang banyak negara lain di dunia ini.

Ai??

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *