Nikmat, Cobaan Ataukah Istidraj (Penglulu) ?

Nabi Bersabda:

“Ketika engkau melihat Alloh memberi pada seorang hamba dari nikmat dunia, yakni sesuatu yang disukai atas kemaksiatannya maka demikian itulah istidraj/penglulu”. (HR. Ahmad : 16673)

Ai??

Mari kita renungkan!

Banyak kejadian-kejadian yang sering terjadi di sekitaran kita, namun umumnya masyarakat salah dalam menilai.

Ai??

Contoh Kisah
Ada seorang Ustadz yang dulu dimasa mudanya semangat dalam berdakwah atau mengajar ilmu agama, tertib sholat berjama’ah, bisa menjalankan amanah yang diemban dengan penuh integritas, walaupun dimasa tersebut belum mampu mandiri dalam segi ekonomi.

Seiring berjalannya waktu, dia yang tadi Seorang Guru ngaji yang hidupnya bergantungan dengan orang lain, setelah menjadi orang kaya, sukses hidupnya, malah tidak punya waktu lagi untuk Pemateri dalam pengajian, sholat berjamaahnya terlalaikan, amanah yang diemban pun terlupakan.

Kemudian menurut kacamata masyarakat yang belum paham tentang ilmunya, pasti mengatakan betapa *Barokahnya* kehidupan orang tersebut. Karena dia memilki segala”nya, mobil, rumah, istri yang cantik, dan lain-lain.

Contoh lain, ada seorang Ustadzah yang dulunya lugu, sholihah, aktif dalam keagamaan, dan tertib ibadahnya.

Namun setelah menikah, punya harta, mobil, rumah bagus, HP, dll. Hobinya selfi kemudian diumbar di media sosial, tidak aktif dalam urusan keagamaan seperti menjadi pemateri dalam pengajian, dan ibadahnya kurang tertib.

Jika dilihat dari ‘kacamata’ umumnya manusia, pasti banyak yang mengatakan bahwa hidup perempuan yang dulunya Ustadzah itu ai???Berkahai??i??.

Sebaliknya ada contoh yang dikira umumnya manusia merasa kasihan atau iba, padahal itu temasuk ai???berkahai??i?? dari Allah.

Arief, seorang juragan kaya-raya, pengusaha sukses, bisnisnya sampai keluar negeri. Tetapi Allah berehendak lain, Bisnisnya bangkrut dan jatuh miskin. Sekarang hidupnya serba sederhana, tinggal di rumah yang kecil dan bahkan ngontrak.

Menurut pandangan kita, dia adalah orang yang patut dikasihani karena bangkrut dari usahanya.

Ketika kita flashback, ternyata Pak Arief dulu waktu sukses, bisnisnya tercampur riba, super sibuk sehingga berimbas pada kurang tertibnya ibadah, jarang tadarusan Al-Qur’an,dan lain-lain.

Setelah bangkrut, dia malah Rajin dan semangat dalam ibadah, Hobi membaca Al-Qur’an, waktunya banyak untuk keluarga sehingga berhasil dalam membimbing anak istrinya, dan lain-lain.

Wahai saudara~saudari, inilah yang namanya *Nikmat* yang penuh barokah yang Allah berikan kepada hambanya dan terkadang kita salah dalam menilainya.

Ai??

Semoga bermanfaat!
Alhamdulillahi Jaza Kumullohu Khoiro….

Sebarkan jika menurut anda bermanfaat, agar semakin banyak orang-orang yang sadar dan tidak salah dalam menilai sesorang.

Ai??

Penulis: Abdul Fakih (Ketua Komunitas Dakwah Al-Azhar (KDA) Fakultas Hukum Universitas Bangka Belitung)

Ai??

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *