Kompensasi Pencemaran, Rp 1,4 Miliyar Tuntutan Nelayan Kembiri ke Perusahaan Sawit Foresta

KoranForum.Com, Membalong, Belitung ai??i?? Pada bulan Juni 2016 ini, maka sudah 21 Tahun lamanya perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Foresta Lestari Dwikarya (PT. FLD) menjalankan usaha bisnis perkebunannya Ai??di Belitung.

Namun, PT FLD dinilai tidak memberikan kontribusi nyata yang dirasakan masyarakat , saat mengelola Perkebunan Kelapa SawitAi?? di Desa Kembiri Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung. Baik itu, kontribusi dalam bentuk Ai??CSR, Plasma, maupun bantuan lainnya, sehingga banyak masyarakat menilai, hanya segelintir orang saja yang merasakan kontribusi dari perusahaan perkebunan sawit ini, yaitu karyawan yang bekerja di PT. FDL itu sendiri.

Kondisi ini, ternyata Ai??membuat gerah anggota DPRD Kabupaten Belitung, diantaranya adalah Johanes Hanibal Palit, yang kesehariannya mengabdikan dirinya untuk tugas-tugas di Komisi Ekonomi dan Pembangunan DPRD Kabupaten Belitung.

Diungkapkan Johan, sebelumnya, dirinya merasa belum pernah mendapat laporan kejadian yang menimpa masyarakat di sekitar wilayah perkebunan sawit PT FDL. Sedangkan Foresta sudah Ai??beroperasi sekitar 21 tahun di Belitung.

Dengan kondisi seperti ini, bisa menimbulkan pertanyaan apakah operasional perkebunan PT FDL ini mau dilanjutkan apa tidak?.

Informasi yang diterimanya, berkenaan dengan dana CSR, ternyata pihak perusahaan diindikasikan tidak pernah memberi. Maka adanya fenomena ini, apakah layak Perusahaan Foresta Ai??masih beroperasi di Belitung tercinta ini?.

Padahal, jelas Johan, perusahaan ini sudah 21 tahun menjalankan usahanya. Namun, dengan HGU yang tinggal berapa saat lagi, tentunya akan bertambah parah masalahnya ini, apakah memang perlu dinilai perusahaan ini layak atau tidak, untuk diberikan perpanjangan izin usaha, atau tidak dipertahankan lagi.

ai???Saya paling tidak suka dengan Foresta, terkait kasus masyarakat Ai??Desa Simpang Rusa dan Aikmalik, yang dianggap banyak yang tidak diselesaikan, terutama kasus pencemaran limbahAi??yang dibuang ke sawit. Memang ada apa limbah dibuang ke sawit?.Ai??Kalau terjadi hujan, ada dampaknyaAi??yang saya khawatirkan, seperti yang terjadi di Newmond. Infonya, ada limbah di laut lari ke darat, lalu masuk ke sungai. Oke lah kalau limbah itu tidak beracun? tapi kalau beracun? apa yang terjadiAi??dengan masyarakat di sekitarnya?.Ai?? Kok justru pihak perusahaan menyatakan, tak sanggup membayar ganti rugi kepada seluruh masyarakat? kita sampai pertemuan terakhir ini saya katakan, kurangajar ini Foresta,ai??? ujar Johan, sambil tak kuasa menahan rasa kesalnya.

Dalam masalah ini, Johan mengungkapkan, kalau pihaknya juga pernah diundang DinasKelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Belitung, serta Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Belitung, berkenaan masalah ini.

Secara jelas, persolan yang dihadapi masyarakat Desa Kembiri terkait kasus pencemaran yang terjadi di Muara Sungai Desa Kembiri, Sungai Lumpor dan Air Jaman Akar, sudah dinyatakan terindikasi terjadinya pencemaran oleh pihak Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Belitung. Fakta ini, tertuang dalamAi?? Berita Acara No: 188.45 /040/SA.FA. BLHD/2015, tentang sanksi administrasi kepada PT Foresta Lestari Dwi Karya (FLD), karena sudah melakukan pencemaran lingkungan .

Ternyata, akibat dari pencemaran tersebut, selain merusak biota laut, juga mempengaruhiAi?? mata pencaharian para Nelayan Desa Kembiri. Untuk itu, masyarakat Desa Kembiri meminta kompensasi kepada PT. FLD sebesar Rp 6 Juta/kepala keluarga (KK), dengan perhitunganAi?? 5 Kilogram (Kg) Ai??x 20 hari Ai??x Rp 60.000 Ai??xAi?? 6 bulan = Rp 36.000. 000.Ai??Ai??

Sedangkan di Desa Kembiri, terdapat sekitar Ai??40 Kepala Keluarga Nelayan, maka total perhitungan ganti rugi akibat pencemaran itu, adalah Rp 36 juta Ai??x Ai??40 KK = Rp 1,4 Miliyar.

Kemudian, informasi yang didapat awak media ini, pada tanggal 30 Mei lalu, diadakan pertemuan secara kekeluargaanAi?? di rumah dinas bupati, guna membahas tuntutan kompensasiAi?? masyarakatAi?? Desa Kembiri, agar segera bisa di selesaikan oleh pihak perusahaan. Tentunya, ada pihak yang dirugikan, terutama nelayan supaya di perhatikanAi??tuntutannya.Ai?? MasyarakatAi??nelayan mengajukan tuntutan kompensasi Rp36juta/KK. Namun ternyata jawaban dari PT Foresta sangat mengejutkan, yaitu menyatakan tidak mampu memberikan besaran tuntutan kompensasi sebesar Rp36 juta/KK itu.

ai???Makanya, Kami minta kepada pihak perusahaan supaya secepat mungkin untuk diselesaikan. Kalau ada bargainningAi?? (posisi tawar), maka barganninglah dengan baik. Tapi katanya pihak perusahaan hanya mampu beri Rp 1 Juta,ai??? beber Ai??Bupati Belitung Sahani Saleh, yang akrab disapa dengan panggilan Sanem, saat diwawancarai awak media.

Tanpa ada kepentingan, rupanya Kepala DKP Kabupaten BelitungAi?? Drs. Destika Efenly, menyikapi permintaan kompensasi masyarakat Nelayan Desa Kembiri. Destika meminta pihak PT FLD, untuk bisa memperhatikan tuntutan para nelayan ini, mengingat PT FLD merupakan pihak yang paling bertanggungjawab atas dugaan kejadian pencemaran lingkungan ini. Ai??Destika juga menilai, tuntutan kompensasi para nelayan atas terjadinya pencemaranAi??di lingkungan wilayah mereka, masih dalam kategori permintaan dalam kewajaran, namun harus ada solusi terbaiknya

ai???Intinya, masyarakat meminta tanggung jawab pihak perusahaan, tapi tolong kompensasi dikaji ulang, apakah tuntutan sekitar Rp36 juta perKK ini, apa tidak terlalu besar, atau memang sudah wajar?,ai??? pungkas Destika. (zaid)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *