Apakah Ada Taqdir Risma Maju Pilgub DKI Jakarta?

JAKARTA  – Situasi politik jelang Pilkada DKI Jakarta 2017 terus memanas. Siapa sosok tokoh-tokoh calon gubernur (cagub) yang akan bertarung di ajang demokrasi  lima tahunan itu, secara perlahan mulai ada titik terang.

Pasalnya, satu nama yang yang sudah bisa dikatakan pasti maju sebagai bakal calon (balon) Gubbernur DKI Jakarta, adalah Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Akhirnya, gubernur petahana itu telah memutuskan maju sebagai cagub melalui partai politik.

Namun kelihatannya, langkah Ahok maju di Pilkada DKIm diperkirakan bakal tidak mulus begitu saja. Sebab, munculnya nama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam bursa cagub DKI Jakarta, membuat jalan Ahok semakin terjal untuk bisa kembali duduk di kursi DKI Jakarta periode berikutnya.

Apalagi faktanya, dari hasil berbagai lembaga survei, nama Risma ditempatkan sebagai lawan terberat Ahok, selain Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, serta Ketua Umum Partai Bulan Bintang Prof. Yusril Ihza Mahendra.

Risma sendiri, walau kerap menolak komentar bila ditanya soal dukungan terhadapnya di Pilkada DKI, saat ini mulai menunjukkan sinyal ‘pasrah’ jika diinstruksikan Ketua Umum PDIP menjalankan tugas partai, untuk melenggang ke Jakarta.

Meski beberapa kali Risma menyatakan menolak, namun Risma juga memberi isyarat tak bisa menolak perintah partainya, bila diminta untuk maju di Pilkada DKI Jakarta.

Berikut ini 5 bahasa politik Risma, dari menolak, galau, hingga menyerahkan pada takdir atas kejelasan maju Pilgub DKI Jakarta 2017.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, sejak awal Dia sudah menemui ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, untuk menolak dicalonkan sebagai gubernur di Pilkada DKI 2017.

“Jadi Saya pernah menghadap Ibu (Megawati), mungkin satu bulan yang lalu. Waktu itu saya sampaikan, “Bu, Saya sudah mendapat amanah di Surabaya. Dan Saya moho, Saya tidak dicalonkan jadi gubernur, baik di Jawa Timur maupun DKI Jakarta. Lalu Ibu Mega terdiam saat itu,” beber Risma, saat menghadiri rapat Dewan Pertimbangan Presiden, di Jakarta, Kamis (10 Maret 2016) lalu.

Alasan penolakan itu lantaran dirinya harus menjaga amanah masyarakat Surabaya yang telah memilihnya menjadi wali kota.

“Saya kan enggak bisa mainin warga Surabaya, kemudian seenaknya saya melompat-lompat gitu, kan. Yang kedua, amanah yang diberikan warga Surabaya itu kan amanah Tuhan yang diberikan kepada saya. Jadi bukan karena apa, melainkan di agama saya juga diajarkan seperti itu,” ucap Risma.

Risma menegaskan, Ia akan menyelesaikan kepemimpinannya di Surabaya hingga periode itu berakhir.

Namun ia tidak bisa berandai-andai apabila kelak seusai jabatannya berakhir, ia dicalonkan kembali sebagai salah satu kandidat Gubernur DKI Jakarta.

“Saya akan sampaikan juga. Saya enggak bisa kalau saya harus ngatur Tuhan. Tapi saya akan berusaha semampu saya. Dulu saya juga enggak minta, kemudian keluar rekomendasi. Saya menang, saya enggak ngira, itu semua jalan Tuhan. InsyaAllah begitu,” tutur Risma.

Rismaharini melanjutkan, banyak permasalahan di Surabaya yang belum dituntaskannya. Ia mengaku, sering mendapat laporan terkait permasalahan warga Kota Surabaya.

“Warga Surabaya kalau ada masalah, langsung hubungi saya langsung. Ini kan sudah menyangkut kesejahteraan masyarakat banyak,” ujar Risma. saat ditemui awakmedia di Jakarta, Jumat, tanggal 22 April 2016 lalu.

Kondisi itu, lanjut Risma, sudah disampaikan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Ia mengaku berat, bila harus meninggalkan warga Surabaya untuk maju di Pilkada DKI. Ia pun mengungkit janjinya untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Wali kota hingga akhir masa jabatan.

“Saya sudah sampaikan, Saya punya janji dengan warga Surabaya. Saya enggak bisa lepas gitu aja. Bagaimana pun, janji itu adalah utang. Kecuali warga Surabaya, bilang enggak apa-apa. Tapi kalau enggak ada izin mereka, gimana saya mungkin bisa,” ujar Risma.

Saat ditanyakan, apakah dirinya sudah menanyakan kepada warga Surabaya? Risma mengatakan, hal itu sudah dilakukan. Risma mengungkapkan, terlihat kebanyakan warga Surabaya tidak mengizinkannya.

“Bahkan, banyak juga teman-teman wartawan di sana menanyakan hal ini. Namun lagi lagi, warga Surabaya bilang enggak boleh. Mereka marah, pasti. Pernah ada yang ditanya, langsung ditawur (dihalangi) warga. (bilang) enggak boleh. Jadi enggak bisa (untuk maju di DKI),” tandas Risma.

Setelah memenangi Pilkada Surabaya untuk kedua kali, Risma mengaku langsung menghadap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, serta beberapa petinggi partai tersebut.

Dalam pertemuan itu, Dia menegaskan akan menjalankan masa jabatan sebagai Wali Kota Surabaya hingga selesai.

“Saya langsung ngadep Ibu waktu itu. Di dalam itu ada Pak Pram (Pramono Anung), Pak Menteri Dalam Negeri (Tjahyo Kumolo), terus Pak Hasto (Kristiyanto). Saya hanya bicara berdua (dengan Megawati). Saya sampaikan, waktu kampanye saya janji ke keluarga, Saya tidak meninggalkan mereka, Saya sampaikan begitu,” beber Risma, pada bulan April 2016 lalu.

Bahkan, saat Jokowi-JK dalam proses kampanye hingga menang pada Pilpres 2014 lalu, Risma mengaku dapat tawaran menjadi menteri. Tetapi tawaran itu ditolaknya, karena ia mau fokus mengurus  Kota Surabaya.

“Begitu Pak Jokowi waktu proses perjalanan kampanye, Saya diminta nanti jadi menteri, terus Pak Jokowi menang saya juga langsung ngadep Ibu. ‘Bu saya enggak mau jadi menteri. Saya ingin tetep jadi wali kota saja’. Saya gitu kan. Ibu boleh ditanya nanti,” ungkap Risma.

Sebenarnya, dukungan terhadap Risma tak hanya muncul dari beberapa petinggi di intenal PDIP saja, melainkan kjuga dari aliansi warga yang membentuk kelompok relawan pendukung Risma, yang terus bermunculan. Diantaranya, Jaklovers (Jakarta Love Risma), Tanah Merah Risma (Tamera) dan Karisma Jakarta.

Hanya saja, Risma tak mau ambil pusing. “Aku enggak tahu lah wong aku di Surabaya kerja kok. Aku di Jakarta kerja, eh di Surabaya kerja, kok di Jakarta. Tanya staf ku nih, aku tidur sehari itu satu jam,” ucap Risma, tanggal  21 Juli 2016 lalu.

Risma mengaku, dirinya belum memiliki kesiapan untuk pencalonannya di Pilkada DKI. Namun, bila takdir berkata lain, Risma mengaku tidak bisa menolaknya.

“Kalau Tuhan menentukan lain gimana? Aku sudah ngomong pertama itu enggak mau, enggak mau, enggak mau, tapi Tuhan itu ngomong lain. Eh aku tuh berangkatnya dari dua persen tahu. Anak-anak muda bilang jalan aja. Seminggu naik 20 persen, dua minggu naik lagi,” beber Risma.

Semakin dekat dengan dengan waktu pembukaan pendaftaran cagub-cawagub di Pilkada DKI Jakarta, Risma mengakui dukungan dari masyarakat untuk hijrah ke Jakarta semakin kuat.

“Ada yang ngomong, Bu ini untuk Indonesia. Terus aku ngomong, lah orang Surabaya sendiri apa bukan bagian dari Indonesia,” kata Risma, pada tanggal 31 Juli 2016.

Namun, Risma mengatakan, tidak bisa mengambil keputusan apa pun. Ia mengaku hanya bisa menjalani apa yang menjadi kewajibannya saat ini sebagai Wali Kota Surabaya.

“Aku enggak bisa mengadu warga Surabaya dengan warga Jakarta. Orang di sana (Jakarta) mengharapkan, orang di sini (Surabaya) enggak boleh. Lah mosok (masa) aku dipecah dadi loro (dibelah menjadi dua),” canda Risma.

Ia menegaskan, dirinya tidak pernah mengatakan bersedia dicalonkan sebagai gubernur di Pilgub DKI Jakarta 2017 mendatang. Akan tetapi, Risma mengaku tidak tahu, apakah takdir pada akhirnya akan mengantarnya melenggang ke Jakarta.  

“Aku enggak pernah ngomong bersedia. Aku hanya menjalani takdirku. Tuhan yang menentukan,” pungkas Risma.  (net/fariz)

 

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *